Aceh Research Institute

Syafaat Puasa dan Al-Qur’an

Syafaat Puasa dan Al-Qur’an

Oleh: Sayed Muhamad Husen*

Dari Abdullah bin 'Amr bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya puasa dan al-Qur’an memberi syafa’at kepada pelakunya pada hari kiamat. Puasa berkata, “Ya Tuhanku aku telah menahan hasrat makan dan syahwatnya, maka berilah aku izin untuk memberikan syafa’at kepadanya. Berkata pula al-Qur’an, ”Wahai Tuhanku, aku telah menghalanginya dari tidur untuk qiyamullail, maka berilah aku izin untuk memberikan syafa’at kepadanya. Nabi bersabda, “Maka keduanya diberikan izin untuk memberi syafaat.” (HR. Ahmad)

Puasa Ramadhan, selain mendapat imbalan yang istimewa dari Allah Swt, sarana “melatih diri” untuk melakukan kebaikan, juga akan mendapat syafaat di yaumil akhir. Semua ini akan menjadi motivasi dan semangat untuk kita berpuasa secara sempurna dan dapat melanjutkan dengan puasa-puasa sunnah di luar bulan Ramadhan nantinya. Yang utama tentu saja kita telah melaksanakan kewajiban yang dipundakkan kepada setiap muslimin. Syafaat tentu saja akan diperoleh oleh orang-orang yang menjaga puasanya dengan baik, merawatnya dari hal-hal yang membatalkan atau mengurangi pahala puasa. Seorang yang sedang berpuasa tentu saja akan menghindari dari membuat gaduh, berbohong, menjaga ucapan/lidah, tidak aniaya dan suka berkonflik. Diharapkan prilaku baik ini akan lestari juga di luar Ramadhan nantinya.

Syafaat akan diperoleh oleh shaimin yang menjaga puasa dari perbuatan keji dan mungkar, tidak melakukan kerusakan dan melestarikan alam ciptaan Allah Swt. Muslim yang telah ditempa oleh puasa Ramadhan akan menjadi bagian dari muslim lainnya yang menghalangi orang berbuat buruk, dan berdakwah mengajak manusia untuk meninggalkan berbagai keburukan dan kemungkaran, baik secara pribadi maupun bersama-sama dalam sebuah organisasi.

Demikian juga syafaat akan diperoleh (semoga) oleh orang yang berpuasa dengan senantiasa menjaga lisan dan tulisan, menjaga pandangan, membatasi tangan dan kaki pada hal-hal yang baik saja. Hati orang puasa akan senantiasa membenci hal-hal negatif, fitnah dan berbagai gunjingan kepada orang lain. Menghindari dan sedapat mungkin menjauhi orang-orang negatif, lemah harapan dan tidak suka menuntut ilmu pengetahuan/tak suka belajar.   Syafaat tentu saja akan diperoleh oleh orang-orang yang menjaga puasanya dengan baik, merawatnya dari hal-hal yang membatalkan atau mengurangi pahala puasa. Seorang yang sedang berpuasa tentu saja akan menghindari dari membuat gaduh, berbohong, menjaga ucapan/lidah, tidak aniaya dan suka berkonflik. Diharapkan prilaku baik ini akan lestari juga di luar Ramadhan nantinya.

Syafaat akan diperoleh oleh shaimin yang menjaga puasa dari perbuatan keji dan mungkar, tidak melakukan kerusakan dan melestarikan alam ciptaan Allah Swt. Muslim yang telah ditempa oleh puasa Ramadhan akan menjadi bagian dari muslim lainnya yang menghalangi orang berbuat buruk, dan berdakwah mengajak manusia untuk meninggalkan berbagai keburukan dan kemungkaran, baik secara pribadi maupun bersama-sama dalam sebuah organisasi.

Demikian juga syafaat akan diperoleh (semoga) oleh orang yang berpuasa dengan senantiasa menjaga lisan dan tulisan, menjaga pandangan, membatasi tangan dan kaki pada hal-hal yang baik saja. Hati orang puasa akan senantiasa membenci hal-hal negatif, fitnah dan berbagai gunjingan kepada orang lain. Menghindari dan sedapat mungkin menjauhi orang-orang negatif, lemah harapan dan tidak suka menuntut ilmu pengetahuan/tak suka belajar.  

Seorang muslim yang taat menjalankan puasa biasanya sekaligus gemar membaca Alquran, sebab dia tahu Allah menurunkan Alquran dalam suci Ramadhan. Allah melipatgandakan pahala membacanya, bertambah ilmu membaca tafsir Alquran dan jaminan selamat dunia dan akhirat dengan mengamalkan kandungan Alquran. Semoga seperti petunjuk hadits di atas, kita juga akan memperoleh syafaatnya.

Hubungan yang arat antara puasa paling tidak dapat kita lihat dari perlunya pedoman hidup yang pasti dan abadi bagi seorang muttaqien hasil produksi Ramadhan. Seperti ditulis Sayid Qutb dalam tafsirnya Fiidhilalil Quran bahwa orang yang berpuasa dilatih untuk punya daya tahan berjihad menyesaikan berbagai persoalan hidup dan perjuangan penerapan ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan. Untuk ini deperlukan pedoman Alquran dalam menata kehidupan ini yang sesuai dengan kehendak Ilahi.

Karena itu, sudah seharusnya kita sempurnakan puasa pada siang hari dan malamnya kita membaca, mempelajari dan mentadabburi Alquran lebih intensif lagi. Kita dapat berguru, mengundung guru, membaca buku tafsir atau menggunakan fasilitas internet untuk menimba ilmu yang terkait dengan Alquran. Jadi selain kita mendambakan syafaat Alquran di yaumil akhir, kita juga mendapat panduannya selama hidup sebagai khalifah di muka bumi ini. Syafaat tentu saja akan diperoleh oleh orang-orang yang menjaga puasanya dengan baik, merawatnya dari hal-hal yang membatalkan atau mengurangi pahala puasa. Seorang yang sedang berpuasa tentu saja akan menghindari dari membuat gaduh, berbohong, menjaga ucapan/lidah, tidak aniaya dan suka berkonflik. Diharapkan prilaku baik ini akan lestari juga di luar Ramadhan nantinya.

Syafaat akan diperoleh oleh shaimin yang menjaga puasa dari perbuatan keji dan mungkar, tidak melakukan kerusakan dan melestarikan alam ciptaan Allah Swt. Muslim yang telah ditempa oleh puasa Ramadhan akan menjadi bagian dari muslim lainnya yang menghalangi orang berbuat buruk, dan berdakwah mengajak manusia untuk meninggalkan berbagai keburukan dan kemungkaran, baik secara pribadi maupun bersama-sama dalam sebuah organisasi.

Demikian juga syafaat akan diperoleh (semoga) oleh orang yang berpuasa dengan senantiasa menjaga lisan dan tulisan, menjaga pandangan, membatasi tangan dan kaki pada hal-hal yang baik saja. Hati orang puasa akan senantiasa membenci hal-hal negatif, fitnah dan berbagai gunjingan kepada orang lain. Menghindari dan sedapat mungkin menjauhi orang-orang negatif, lemah harapan dan tidak suka menuntut ilmu pengetahuan/tak suka belajar.  

Seorang muslim yang taat menjalankan puasa biasanya sekaligus gemar membaca Alquran, sebab dia tahu Allah menurunkan Alquran dalam suci Ramadhan. Allah melipatgandakan pahala membacanya, bertambah ilmu membaca tafsir Alquran dan jaminan selamat dunia dan akhirat dengan mengamalkan kandungan Alquran. Semoga seperti petunjuk hadits di atas, kita juga akan memperoleh syafaatnya.

Hubungan yang arat antara puasa paling tidak dapat kita lihat dari perlunya pedoman hidup yang pasti dan abadi bagi seorang muttaqien hasil produksi Ramadhan. Seperti ditulis Sayid Qutb dalam tafsirnya Fiidhilalil Quran bahwa orang yang berpuasa dilatih untuk punya daya tahan berjihad menyesaikan berbagai persoalan hidup dan perjuangan penerapan ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan. Untuk ini deperlukan pedoman Alquran dalam menata kehidupan ini yang sesuai dengan kehendak Ilahi.

Karena itu, sudah seharusnya kita sempurnakan puasa pada siang hari dan malamnya kita membaca, mempelajari dan mentadabburi Alquran lebih intensif lagi. Kita dapat berguru, mengundung guru, membaca buku tafsir atau menggunakan fasilitas internet untuk menimba ilmu yang terkait dengan Alquran. Jadi selain kita mendambakan syafaat Alquran di yaumil akhir, kita juga mendapat panduannya selama hidup sebagai khalifah di muka bumi ini.

Semoga Allah merahmati kita dan mendapat syafaat seperti petunjuk hadist di atas: Puasa berkata, “Ya Tuhanku aku telah menahan hasrat makan dan syahwatnya, maka berilah aku izin untuk memberikan syafa’at kepadanya. Berkata pula al-Qur’an, ”Wahai Tuhanku,aku telah menghalanginya dari tidur untuk qiyamullail, maka berilah aku izin untuk memberikan syafa’at kepadanya. Nabi bersabda, “Maka keduanya diberikan izin untuk memberi syafaat.”

Semua itu akan terjadi atas kuasa dan kehendak Allah Swt, sesuai dengan firman-Nya: Tidak ada seorang pun yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya melainkan dengan seizin-Nya. (QS Al-Baqarah: 255). “Dan berapa banyak malaikat di langit, syafaat mereka sedikit pun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridai-(Nya). (QS An-Najm: 26. “D mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai Allah. (QS Al-Anbiya: 28).

Semoga puasa kita diterima oleh Allah Swt dan Dia membalas amal ibadah kita dengan balasan yang terbaik menurut-NYa. Semoga kita senantiasa memperoreh ridha dan ampunan-Nya, sehingga di penghujung Ramadhan nanti mamperoleh derajat yang lebih baik dan kembali suci bersih seperti bayi yang baru lahir. Bersih dari dosa-dosa yang kita kerjakan selama ini. Amien.

*Penulis adalah Kader Iskada dan Pemimpin Redaksi Gema Baiturrahman

 


0 Komentar
Tuliskan Komentar Anda
Inputan yang bertanda * harus diisi.