Aceh Research Institute

Skenario Allah Lebih Indah

Skenario Allah Lebih Indah

Oleh: Safrina Dewi*

“Fir bajumu sudah di packing semuanya kan? “ tanya ibunya Firman.   

“Alhamdulillah... Udah dong Bu. Tinggal berangkat ini ” imbuhnya.

 “Baiklah kalau begitu. Yaudah kamu tidur sana biar besok tidak kesiangan ke bandara,” titah ibunya Firman.

Firman adalah anak tunggal yang sangat disayangi dalam keluarga karena hanya dialah buah hati kedua orang tuanya. Dan ia sekarang sudah tumbuh dewasa dan bekerja di perusahaan ternama. Gajinya pun sangat menggiurkan diposisinya sebagai manager . Walaupun untuk mendapatkan posisi tersebut butuh perjuangan yang besar, dengan keuletan dan kegigihannya, juga Firman tak lupa mengiringi dengan do’a.

Karena orang tuanya selalu berpesan berusaha tanpa berdo'a itu sombong, dan berdo'a tanpa berusaha sama saja bohong. Ya. Karena do'a adalah senjata yang paling ampuh. Terbukti ia bisa mendapatkan posisi besar tersebut dalam waktu singkat walaupun ia masih dikategorikan belum terlalu lama dalam dunia perusahaan.

Tidak heran di akhir tahun ini ia ingin liburan ke luar negeri bersama rekan kerjanya, niat hati ingin melepaskan kepenatan sebelum memasuki kedalam ruangan perusahaan yang bertumpuk kertas-kertas yang menguras tenaga serta kelelahan otak dalam berfikir. Belum lagi setiap hari harus melewati hiruk pikuk jalan raya yang penuh kemacetan.

 

Allahu Akbar Allahu Akbar

Gema azan berkumandang disepanjang komplek perumahan keluarga Firman.

“Hmmmm udah azan ... Hah azan? Wah gua harus bangun cepat nih biar gak telat ke bandara,” cerocos Firman pada dirinya sendiri.

Tok tok tok

“Bangun Fir udah subuh!” titah bapaknya di balik pintu kamarnya Firman

“Iya pak ... Udah bangun ini,” sahutnya

 

“baguslah kalau begitu. Apa mau bareng sekalian ke Mesjid bersama bapak?”

“Wah kayaknya subuh ini firman shalat di rumah saja pak, soalnya buru-buru ke bandara”

“Oh iya fir ... Bapak hampir terlupa. Yaudah bapak duluan ya,”

“Baik pak”

Firman langsung mandi, wudhu dan bergegas sholat.

Setelah semuanya siap, Firman langsung mengambil koper yang sudah dua hari lalu dipersiapkannya.

Dan menghampiri ibunya ke dapur yang sudah siap membuat sarapan.

 

“Eh fir udah siap aja ni, giliran kalau ada maunya aja cepat siap semua” celoteh ibunya.

 “Hehe iya nih Bu, firman takut telat ke bandara. Oiya firman juga udah pesan grab untuk berangkat ke bandara, mungkin sekitar lima belas menit lagi udah sampai kesini” jawabnya.

 “Oalah gak lama lagi tuh. Yaudah cepetan sarapan biar gak gelagapan nanti! Maaf juga ya nduk bapak gak bisa nganterin kamu ke bandara. Karena sekarang aja pulang dari mesjid bapakmu udah ke kantor lurah katanya ada kepentingan mendadak, bapak nelpon ibu barusan. Ya tau sendirilah kesibukan bapakmu,” jelas ibunya.

 “Iya Bu, bapak juga ada kabarkan Firman barusan. Makanya Firman langsung pesan grab,” jawab firman

 Tit tit tit tit

 “Bu, Firman berangkat dulu ya. Itu mobil grabnya udah tiba”

 “iya fir. Jangan lupa berdo’a agar selamat diperjalanan dan terhindar dari marabahaya!”

pesan ibunya firman yang menahan sedih karena harus melepaskan putra semata wayangnya bepergian jauh. Tidak heran, karena ia adalah putra kesayangannya.

 “Aman bu. Firman gak akan lupa, itu rutinitas waktu firman masih bocil hehe ... Firman berangkat dulu ya bu. Jangan lupa sampaikan salam pada bapak. Assalamu’alaikum,” firman berkata sambil melepaskan tangan pada ibunya.

 “Wa'alaikumussalam” jawab ibunya seketika mobil grab yang ditumpangi Firman berangkat.        

Bandara Soekarno Hatta terlihat ramai orang berlalu lalang. Dan firman asik membaca wa dari temannya mengabari keberadaan mereka.

 “Eh bro siniii” sahutan yang begitu familiar ditelinga Firman.

“Eh kalian disini rupanya baru aja gua cek wa, untung belum buka google maps” sahut firman

 “Yaudah yuk cabut! Jadwal keberangkatan kita dah di umum tu” sahut salah satu dari tiga temannya. Ya mereka berlibur berempat kesana. Ke Negeri Sakura.

 Disaat pesawat climbing, Firman tiba-tiba saja merasa gelisah dan hati nuraninya merasakan ada yang tidak beres. Bukan soal dia takut naik pesawat, karena ini udah menjadi hal biasa baginya sebagai lulusan mahasiswa luar negeri.

Singapore dan Jakarta sudah menjadi rutinitasnya disetiap libur semester. Ya. Dia adalah anak semata wayang. Orangtuanya selalu akan memberikan yang terbaik untuknya. Mulai dari sekolah berbasis pesantren dan juga kuliah luar negeri yang diimbangi dengan IQ-nya diatas rata-rata.

Kembali lagi ke perasaan firman yang gelisah, dia tidak ingin membuang waktu yang masih ada. Dia was-was dan mewanti-wanti kalau jangan sampai lupa berdo'a untuk keselamatan.

Benar saja disaat setengah perjalanan pesawat meluncur dengan santai, tiba-tiba oleng dan tak terkendali lagi. Pramugari pun memberi pengumuman dengan gelisah. Dan bruukkkkkkkk

Senja perlahan menyampaikan salam rindunya yang tergantikan dengan malam yang gelap gulita ditengah pulau kecil yang tak berpenghuni kecuali seorang manusia Yang masih bernyawa terdampar di pinggir pantai.

Perlahan ia membuka mata

“Ya Rabb dimana aku?”

Perlahan ia baru saja memutar memori beberapa jam yang lalu kalau ia, kawan-kawannya dan seluruh penumpang mengalami kecelakaan pesawat. Dan ia langsung mencari keberadaan mereka. Namun nihil. Mereka semua sudah tak bernyawa. Dan ia mengucapkan innalilahi wainna ilaihi Raji’un.

Ia langsung merogoh saku celananya

mencari benda pipih androidnya untuk meminta bantuan. Namun sia-sia, jaringan tak terdeteksi. Mereka berada di zona non jaringan.

Seketika ia menangis sejadi-jadinya karena tak dapat meminta bantuan. Satu sisi ia juga merasa bersyukur karena masih bisa selamat dari kejadian na'as yang memilukan.

Ia tak membuang kesempatan yang ada mumpung cahaya senja masih remang-remang kemerahan dan kemudian membangun pondok kecil dari kayu-kayu yang hanyut untuk menyimpan harta benda dan berteduh dari malam yang gelap gulita.

Setiap hari ia selalu melihat ke langit mengharapkan pertolongan, tetapi tak ada satupun pesawat atau kapal yang datang.

Suatu hari ia membakar ikan laut yang dijadikan santapan makanan. Ya  itulah makanan andalannya untuk mengganjal perut yang keroncongan. Beruntunglah ia mempunyai korek api di saku celananya.

Dan kemudian ia pergi ke Laut untuk mandi.

Setibanya ia pulang dan mendapati pondok kecilnya terbakar. Asap bergulung-gulung naik ke Angkasa. Hal yang paling buruk telah terjadi, ia kehilangan semua harta bendanya.

Ia berdiri terpaku diliputi perasaan sedih bercampur marah. “YAA RABB ... TEGANYA KAU BERBUAT DEMIKIAN TERHADAPKU!” teriaknya.

 Keesokan harinya, ia terbangun oleh seorang  kapal yang mendekati daratan. Kapal itu datang untuk menolongnya.

 “Bagaimana kau tahu aku ada di sini?” tanyanya kepada si penolong.

“Kami melihat asap yang kau kirimkan,”jawabnya.

Seketika firman langsung sujud syukur, menangis dan memohon ampun atas prasangka buruknya kepada yang mahakuasa.

Kita mudah sekali menjadi kecil hati bila urusan tidak berjalan dengan baik. Kita mudah berputus asa bila sedang sedih dan menderita, padahal Allah selalu mengurus kehidupan kita.

Ingatlah, lain kali bila pondok kecilmu terbakar rata dengan tanah, boleh jadi itu adalah asap untuk mohon pertolongan. Karena skenario Allah lebih indah. Karena Allah adalah sutradara terbaik. Luar biasa. Allahu Akbar.

 

*Penulis adalah Peserta Jurnalistik Remaja Masjid Raya Baiturrahman Aceh


0 Komentar
Tuliskan Komentar Anda
Inputan yang bertanda * harus diisi.