Aceh Research Institute

Semiotik Perusahaan Perbankan terhadap kata “Syariah”

Semiotik Perusahaan Perbankan terhadap kata “Syariah”

Oleh: Teguh Murtazam, S.Sy*


Semiotik secara leksikal dalam kamus besar bahasa Indonesia dijelaskan bahwa semiotic sebagai sistem tanda atau lambang dalam kehidupan manusia. Lebih lanjut kata tersebut juga dijelaskan oleh seorang penulis kondang Salim A Fillah dengan mengutip dari buku Il Namo de La Rosa menyebutkan bahwa makna lain dari semiotic adalah seni berbohong.


Adapun istilah semiotik yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah untuk menyebut tindakan yang menggunakan istilah Syariah sebagai lebel untuk alasan marketing oleh perusahaan perbankan tertentu. Dimana tujuan ini sama sekali berbeda dengan maksud yang sebenarnya dari pendirian lembaga perbankan Syariah. Hal penting lainnya yang juga perlu ditekankan bahwa tulisan ini tidak dibuat untuk mendiskreditkan bank Aceh atau lembaga keuangan tertentu. tulisan ini lebih kepada saran agar kedepan lembaga keuangan khususnya perbankan yang melebelisasi diri mereka dengan kata “syariah” agar dapat lebih konsisten dengan sistem Syariah. Baik dari sisi prinsip-prinsip dasar sampai pada teknis operasional. Karna hal tersebutlah yang merupakan titik sentral perbedaan perbankan Syariah dengan perbankan konvensional.


Beberapa hasil penelitian yang dilakukan dari tahun 1998 sampai tahun 2013 mengenai faktor apa saja yang membuat seseorang memilih untuk menempatkan dananya di perbankan Syariah dan faktor-faktor yang membuat seorang nasabah mempertahankan dananya diperbankan Syariah sebagai mana telah diuraikan oleh Laila dan Sepky dalam sebuah penelitian mengenai persepsi masyarakat dalam penerapan Syariah Compliance. Menunjukkan bahwa alasan yang paling dominan adalah ketaatan dan kompetensi perbankan dalam menerapkan prinsip-prinsip Syariah dalam operasionalnya secara umum. Hal ini dapat dilihat misalnya penelitian yang dilakukan oleh Wardayati (2011) yang mendapati bahwa faktor yang paling penting untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan Syariah adalah pemenuhan atau kepatuhan terhadap prinsip Syariah (Syariah Compliance). Demikian juga dalam penelitian yang dilakukan oleh Metawa dan Almossawi (1998), Naser (1999). Serta pokok-pokok hasil penelitian Bank Indonesia di wilayah Kalimantan Selatan (2005). Artinya, kepatuhan perbankan Syariah terhadap nilai-nilai Syariah dalam berbagai aspek, dapat menjadi faktor fundamental untuk menarik dan mempertahankan nasabah pada perbankan tersebut.


Kajian-kajian diatas menguatkan argumentasi bahwa semiotic dalam perbankan Syariah mengenai labelisasi syariah tidak akan ditolerir sama sekalli oleh nasabah. Setiap nasabah yang menyadari adanya gejala semiotic akan memutuskan untuk beralih keperbankan lain. Bahkan tidak mustahil berpindah keperbankan konvensional dengan alasan bahwa tidak ada perbedaan antara bank Syariah dan bank konvensional. Dan ini sudah mencederai tujuan dari pendirian lembaga keunagan Syariah yaitu untuk menyelematkan ummat manusia dari ancama bahaya riba.

Bank Aceh Syariah menurut rilis Serambi Indonesia (5/9/16) telah mengantongi izin operasional konversi dari bank konvensional menjadi bank dengan sistem murni Syariah berdasarkan surat keputusan Dewan Komisioner otoritas jasa keuangan (OJK) Nomor KEP-44/D.03/2016. Hal ini berarti bank Aceh akan segera mengemban misi baru yang jauh lebih berat dibandingkan sebelumnya. Hal ini juga yang membuat Bank Aceh Syariah harus lebih berhati-hati dalam menciptakan produk, mengembangkan sistem pelayanan, kebijakan investasi, serta mengelola kepercayaan. Agara tidak terjebak kedalam jurang semiotic.


Bank Aceh Syariah yang baru haruslah memiliki semangat tidak hanya untuk mendapatkan profit yang sebesar besarnya tapi juga harus menjadi agen Islam dalam rangka mempromosikan Islam kepada dunia. Bank Aceh Syariah memiliki tantangan besar, dimana kedepan akan menjadi rujukan para pemerhati ketika akan membela sistem ekonomi Syariah ataupun menjatuhkan sistem ekonomi Islam. Jika perkembangan Bank Aceh Syariah dengan sistem yang baru ini menunjukkan tren positif maka tentu akan menguatkan argumentasi bahwa sistem ekonomi Islam dapat menyelamat manusia dari krisis keuangan. Namun jika yang terjadi adalah sebaliknya maka hal tersebut justru menjadi boomerang dalam pengembangan ekonomi Syariah kedepan karna akan terdepat preseden bagi penentang untuk membuktikan bahwa ekonomi Syariah tidak dapat diandalkan. Oleh sebab itu patut disadari oleh semua pihak yang terlibat dalam pengembangan Bank Aceh Syariah kedepan bahwa misi yang dijalankan semakin berat.


Untuk dapat memastikan bahwa semua hal akan berjalan dengan baik, mendapat keuntungan, dan meraih kepuasan nasabah. Bank Aceh Syariah harus benar-benar konsisten dalam menerapkan sistem Syariah. Baik dalam operasionalnya, mencakup sistem pelayanan nasabah, produk, penanganan pembiayaan bermasalah, transparansi, bahkan sampai pada spek-aspek terkecil seperti desain interior ruangan bank, penempatan kursi tunggu bagi nasabah, aspek-aspek kenyamanan bagi nasabah dalam bertransaksi, tingakah laku karyawan-karyawan bank dan sebagainya. Harus memiliki referensi Syariah. Sehingga konversi bank Syariah tidak dimaknai semiotic oleh para nasabah tapi benar-benar konversi yang komperhensif. Dan Bank Aceh harus memiliki visi menjadi bank Syariah pelopor dalam penerapan sistem Syariah secara kaffah bagi seluruh pelaku bisnis keuangan Syariah di Seluruh dunia. Sehingga nantinya yang dilakukan bank Aceh dalam digambarkan dalam satu kalimat yaitu “dari serambi mekkah untuk dunia”. Sekaligus dapat membantu meningkatkan kesejahteraan ummat dengan sistem yang murni Syariah.


Semangat konversi juga harus merubah paradigma seluruh pemegang otoritas dalam lingkungan bank Aceh, dari melayani keinginan pasar menjadi melayani masyarakat, mengapai nasabah-nasabah di pedalaman dan turut serta dalam pembinaan mereka dalam rangka meningkatkan kuadran kehidupan sosial masyarakat yang selama ini termarginalkan dari sisi ekonomi. Selain itu perhatian Bank Aceh Syariah terhadap pemahaman dan pengamalan karyawannya mengenai sistem Syariah juga harus menjadi prioritas. Seluruh karyawan Bank Aceh Syariah harus diupgret pemahaman dan pengamalan Syariah Islamnya. Pengembangan pemahaman dapat dilakukan dengan melaksanakan berbagai macam pelatihan dan pendidikan, adapun pengamalannya harus didorong dan dimotivasi oleh perusahaan. Dengan menciptakan lingkungan kerja yang sadar Syariah seperti membudayakan sholat berjamaah, bershadoqah, sholat dhuha bersama dan lainnya. hal ini jika dilakukan dengan serius akan mampu meningkatkan produktifitas Bank Aceh Syariah dan mereduksi angka kerawanan penyelewengan kewenangan dilingkungan Bank Aceh Syariah. Akhirnya diharapkan konversi Bank Aceh Syariah adalah awal bangkitnya ekonomi masyarakat yang ada di Aceh dan merupakan salah satu batu bata penting dalam pembangunan peradaban Islam yang madani di Provinsi Aceh. Sehingga tidak dimaknai sebagai semiotic belaka.

Penulis adalah alumni Hukum Ekonomi Syariah, UIN Ar-Raniry dan Ketua Bidang Dakwah dan Kajian Islam, PD Pemuda Muhamadiyah Kota Banda Aceh.

 


0 Komentar
Tuliskan Komentar Anda
Inputan yang bertanda * harus diisi.