Aceh Research Institute

Rindu

Rindu

Oleh Farah Rozana*

Suara musik mengalun ilir dicafetaria yang sedang kukunjungi ini. disebabkan olehku yang merupakan seorang yang sedikit canggung dalam berteman maka dikampus baru ini dengan status anak rantau aku masih kemana-mana seorang diri, termasuk ketika kini kuseruput secangkir teh yang menggepul dihadapanku. Alih-alih menikmati alunan musik yang aku tidak tau penyanyinya, aku malah menyimak pembicaraan dua orang gadis dibelakangku—bukan sosialita—yang sedang bercerita tentang kerinduan mereka pada orangtua mereka.

“ Apalagi pas Mamaku masakin sayur lodeh tu. Beeh enak beud...” ujar salah satunya.

“ Paling enak pas sakit ada Mama. Bisa rengek-rengek, deh.” Tambah gadis lainnya lagi diakhiri dengan kekehan keduanya.

Aku bukannya senang menguping namun, kurasa topik mereka tidak tabu untuk kutelaah. Kupandangi jauh kedalam semilir angin yang mengirim getir diluar sana, sekalian membawa anganku jauh menembus jarak dan waktu menuju kampung dan menuju rumah. Apa yang sangat kuingat akan keberadaan Ibu?

Ibuku. Setiap pagi ia pergi kesawah untuk bertani lahan yang bukan miliknya, tapi milik Pak Keuchiek—kepala desa—ia pulang tepat ketika aku pulang sekolah. Dirumah yang sangat sederhana dengan genteng bocor dan lantai semen yang mulai bobrok aku hidup bersamanya dan seorang adik laki-laki yang kerjanya masih main ketapel. Pada siang hari dimana kami genap berkumpul dirumah, sepert biasa kami akan membuat makan siang dan ia akan menyeduh teh, untuk menghilangkan dahaga dan lelahnya. Kami sekeluarga sangat menyukai teh dan hampir setiap hari aku merasa kekurangan beberapa teguk dari teh yang segelas besar telah habis kuminum.

Kurang dan lebih hanya itu. sebab lainnya akan berjalan normal dan biasa, tidak banyak percakapan hangat atau adegan-adegan merengek dengannya ketika sakit. Sebab aku bukanlah tipe anak yang manja dan Ibu sudah sangat sibuk dengan jemuran belimbing dan ternak kecil-kecilan ayam kampungnya, sepulang bertani tentunya.

Dua bulan sudah aku berada di Jakarta. Disini aku tinggal di asrama kampus dengan status mahasiswi kurang mampu, dan aku sekamar dengan dua mahasiswi lainnya yang satu diantaranya telah masuk semester 6. Ia yang lebih dulu ada disana, mereka memang lebih dulu ada disana dan aku berada diantara manusia yang possesif akan teritorinya. Aku tidak dapat sembarangan menjemur pakaian di balkon, aku tidak bisa sembarangan menggunakan air, aku tidak bisa sembarangan berlama-lama dikamar mandi, dan aku tidak bisa sembarangan menjejaki daerah dimana kasur mereka berada. Dan yang paling kuwas-was adalah barang-barang mahal mereka yang selalu tergeletak merdu disudut-sudut ruangan, apabila aku salah bergerak maka ganti rugi akan terdengar dalam sejarah rantauanku. Meski begitu mereka tetaplah manusia, yang punya perasaan, meski begitu mereka akan hidup dalam kondisi normal dan juga akan berinteraksi dengan normal pula. Dan kurasa aku bisa bertahan.

Awal. Aku merasa biasa saja dengan meninggalkan rumah, bahkan aku mencari satu hal yang kurindui semacam celoteh dua gadis dibelakangku ini. Apa? lalu aku hanya semakin merenung, semakin jauh kedalam cangkir teh hangat didepanku. Lalu sebutir airmata meleleh dengan lancar dan membuka sebuah tabir kegetiran didalam hatiku. Ternyata aku tau, dan sangat tau namun tadinya sulit untuk disimpulkan. Aku tau apa yang sedang aku rindu dari Ibu yang mungkin saat ini masih berada disawah untuk membuang hama keong di sawah Pak Keuchik.

Aku rindu Ia yang selama ini selalu mengosongkan gelasnya untuk aku yang ingin beberapa teguk teh, lagi.

 

*Penulis adalah Peserta Pelatihan Jurnalistik Remaja Masjid Raya Baiturrahman Aceh

 

 


0 Komentar
Tuliskan Komentar Anda
Inputan yang bertanda * harus diisi.