Aceh Research Institute

Refleksi Hari Buruh

Refleksi Hari Buruh

Oleh : Muhammad Syarif, S.HI.M.H*

 

Sejarah seringkali sulit dikongkritkan kebenarannya. Ungkapan itu rasa-rasanya tidak berlebihan, bahkan terkadang sejarahpun banyak yang  dipolitisasi sesuai selera pelakunya. Ya, terlepas dari benar-tidaknya sejarah itu, setidaknya deviden atas fakta-fakta sejarah itu yang bisa menguatkan akan kebenarannya.

Begitupun dengan perayaan hari buruh yang dilaksanakan setiap tanggal 1 Mai 1918 dimana ratusan anggota serikat Buruh Kung Tang Hwee Koan menggelar peringatan Hari buruh di Kota Surabaya. Pelaksanaan hari buruh ini diyakini sebagai cikal bakal hari buruh internasional.

Pada sebuah tulisan yang ditulis Sneevliet, dia menumpahkan kekecewaaannya atas perayaan hari buruh itu. Kerena menurutnya perayaan hari buruh hanya menarik simpati bangsa-bangsa eropa dan hampir dipastikan tidak ada keuntungannnya bagi Bangsa Indonesia.

Lebih lanjut Sneevliet mengatakan perayaan hari buruh lebih banyak didominasi oleh kaum komunis. Sejak tahun 1918 hingga tahun 1926 pergerakan kaum buruh terus melakukan eksistensinya  dengan melakukan berbagai aksi antara lain, mogok kerja, demontrasi, menuntut kenaikan upah dan sebagainya.

Lalu secara politik hukum di Indonesia, Pemerintah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1948 dan secara resmi mengesahkan setiap tanggal 1 Mei negara mengakui sebagai hari Buruh. Dimana pada hari itu, buruh dibebaskan dari kewajiban bekerja. Pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno peringatan May Day, hari buruh diperingati secara rutin.

Buruh sebagai Investasi Bangsa

Dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1948, Term buruh identik dengan Pekerja. Dalam perspektif lebih luas seluruh profesi pekerja sebenarnya dapat dikatakan buruh. Akan tetapi dalam perkembangannya Buruh identikan dengan pekerja kasar. Bahkan terkadang buruh seringkali dibedakan dengan profesi pekerja yang lain, seperti pegawai negeri, dosen, hakim, dan sebagainya. Disinilah ada perbedaan mencolok antara buruh dengan profesi pekerja lainnya yang dianggap lebih sejahtera kehidupan ekonominya.

Harus diakui buruh atau tenaga kerja indonesia diluar negeri, sebenarnya salah satu penyumbang terbanyak devisa negara. Berdasarkan hasil penelitian salah seorang mahasiswa Indonesia pada Tahun 2008, Buruh (Tenaga Kerja Indonesia) di Malaysia menyumbang devisa Rp.82 Trilyun. Angka ini terus bertambah setiap tahunnya.

Untuk itu sudah saatnya Negara memikirkan kehidupan para buruh, jika perlu mendapat perlindungan yang nyata dari negara. Beberapa kasus yang menjerat buruh (TKI di luar negeri) terutama di timur tengah, malaysia, Thailand dan Singapura, terkadang kurang mendapat perhatian serius dari Negara.

Negara harus memikirkan langkah-langkah strategis, terhadap buruh seperti ada standarisasi upah yang layak serta memberikan sanksi yang tegas bagi pengusaha yang memperkerjakan buruh, tanpa memperhatikan pasangon hari tua. Negara juga harus menjamin kelangsungan hidup keluarganya, jika perlu negara juga memberikan reward bagi buruh-buruh indonesia yang berdedikasi tinggi, yang telah mengharumkan nama bangsa, sekaligus menyumbang salah satu devisa terbesar bagi negara. Krue semangat..selamat hari jadi buruh khususan hari jadi jadi buruh Indonesia yang pertama kalinya ditetapkan secara konstitusi pada tanggal 1 Mei 1948 yang secara kalkulatifnya telah berumur 68 Tahun. Jayalah buruh, jayalah Indonesia.

 

* Penulis adalah Direktur Aceh Research Institute.

 

 

 


0 Komentar
Tuliskan Komentar Anda
Inputan yang bertanda * harus diisi.