Aceh Research Institute

Pengeringan Politik

Pengeringan Politik

Oleh: Bisma Yadhi Putra*

BELUM lama ini, saya menanyai seorang bupati soal upaya apa yang hendak dilakukannya untuk menanggulangi kekeringan yang terjadi setiap tahun di daerahnya. Dua jawaban ia kemukakan: Pertama, “Ya, kalau masalah itu tanya sama Tuhanlah. Kok sama saya”. Kedua, “Belum, belum ada solusi dari Pemkab”.

Jawaban pertama gurauan. Anggap saja begitu. Tetapi jawaban kedua tentu suatu keseriusan. Orang-orang pasti dongkol dengan jawaban tersebut, misalnya ketika mereka membaca berita: “Bupati: Saya Belum Tahu Solusinya”. Sang bupati kalakian akan dibilang tidak becus, bangai, atau dicela karena tidak bekerja keras untuk menolong para petani yang setiap tahun dihantui gagal panen.

Kekeringan bukan ihwal yang gampang diberesi. Berbagai disiplin ilmu yang ada di planet ini boleh saja memberi penjelasannya masing-masing. Hidrologi mengatakan kekeringan terjadi karena keterdapatan air tanah sudah susut signifikan; demografi mengemukakan faktor pertambahan jumlah penduduk; ekologi menjelaskan soal rusaknya daerah resapan air sehingga keseimbangan alam terganggu; klimatologi menyoal pengaruh perubahan iklim; antropologi meyakini akibat disingkirkannya kearifan lokal dalam pengelolaan air; dan sebagainya.

Merancang solusi
Tidak mudah bukan karena semua penjelasan serta solusi yang diberikan disiplin-disiplin ilmu tersebut keliru. Justru berbekal pengetahuan-pengetahuan di atas, juga dari tinjauan di lapangan, para perencana pembangunan bisa merancang solusi. Hal itulah yang dilakukan para perencana pembangunan di daerah bupati tadi. Singkat cerita, sampailah solusi teknis yang sudah dirancang Bappeda di sana ke telinga orang-orang yang punya kuasa untuk memutuskan: “Ini saja, itu jangan”.

Apa yang kemudian terjadi? Seorang pegawai Bappeda menyampaikan keluhannya. Ia menerangjelaskan bagaimana program-program yang disusun “tereksekusi” di kertas saja, sebab dari mulut orang yang tidak berani mereka tentang keluar titah, “Ini tidak begitu penting. Ganti sama yang ini saja”. Solusi-solusi untuk menyelesaikan krisis air itu dicoret, diganti dengan proyek lain yang beranggaran lebih besar, tetapi tidak bertalian sama sekali dengan upaya mengatasi dampak musim kemarau yang diderita warga.

Inilah yang tak bisa dijelaskan oleh hidrologi, antropologi, ekologi, dan teman-temannya tadi. Betapa pun begitu kuat kadar keilmiahan penjelasan-penjelasan dan solusi-solusi mereka, tiada jaminan tak akan dimentahkan dalam politik. Maka di sinilah ilmu politik bisa mengambil satu peran untuk memberi penjelasan mengapa dampak-dampak musim kemarau yang bisa diatasi dengan bermacam solusi yang diciptakan para teknikus (manusia) untuk menolong petani (manusia) kemudian dijegal oleh politikus (manusia).

Soal perkara demikian, ilmu politik sudah banyak memberikan penjelasan serta menganjurkan perbaikan. Ilmu politik adalah disiplin ilmiah yang sudah cukup lelah menjelaskan bermacam tindak tanduk tidak ilmiah elite politik. Manakala ia menganjurkan pelaksanaan kekuasaan yang bersandar pada ilmu pengetahuan, atau sandaran-sandaran ilmiah dalam pembuatan kebijakan, pada saat bersamaan ia juga selalu harus menjelaskan penegasian hal-hal tersebut di dalam kekuasaan.

Ilmu politik tidak pernah menganjurkan praktik politik yang anti-pengetahuan. Tidak pernah ia menerima sebuah politik yang menyubstitusi kebaikan-kebaikan (yang didasari pengetahuan) untuk umum dengan keuntungan diri (yang didasari hasrat). Politik yang diharuskan olehnya adalah politik yang dibasahi ide-ide luhur beserta tindakan-tindakan pewujudannya, yang memberi kesegaran bagi orang banyak. Maka politik tiada lain hanya meminta orang-orang yang sejak mula mengasadkan diri untuk memperjuangkan kebaikan bersama dengan pengaruh/kekuasaannya. Begitulah sawab pada politik. Tetapi kemudian hakikat politik akan berhadapan dengan hakikat manusia. Pertama, manusia tidak seragam. Tidak semua orang memiliki niat yang sama terhadap satu hal yang sama. Hasrat memiliki pengaruh/kekuasaan ada pada semua manusia, tetapi niat dan tindakan baik dalam penggunaannya tidak ada pada semua manusia.

Ilmu politik tidak pernah menganjurkan praktik politik yang anti-pengetahuan. Tidak pernah ia menerima sebuah politik yang menyubstitusi kebaikan-kebaikan (yang didasari pengetahuan) untuk umum dengan keuntungan diri (yang didasari hasrat). Politik yang diharuskan olehnya adalah politik yang dibasahi ide-ide luhur beserta tindakan-tindakan pewujudannya, yang memberi kesegaran bagi orang banyak. Maka politik tiada lain hanya meminta orang-orang yang sejak mula mengasadkan diri untuk memperjuangkan kebaikan bersama dengan pengaruh/kekuasaannya. Begitulah sawab pada politik. Tetapi kemudian hakikat politik akan berhadapan dengan hakikat manusia. Pertama, manusia tidak seragam. Tidak semua orang memiliki niat yang sama terhadap satu hal yang sama. Hasrat memiliki pengaruh/kekuasaan ada pada semua manusia, tetapi niat dan tindakan baik dalam penggunaannya tidak ada pada semua manusia.

Ketika politik menghadapi kejamakan tersebut, mulailah ia terguncang. Ide-ide bagus yang membasahinya sejak mula dikoreksi oleh mereka yang tidak sejalan. Pengoreksian itu adalah bentuk pengeringan politik.

Politik menjadi kering ketika mulai dijadikan lahan basah orang-orang tamak. Sumber-sumber daya pada institusi-institusi yang dibentuk untuk mengejawantahkan kesejahteraan dikuras guna “mengobati” dahaga kekuasaan mereka. Dalam politik yang sudah dikeringkan, pengaruh/kekuasaan dipakai bukan untuk mengutamakan terselenggaranya hak-hak warga.

Setelahnya, apakah politik akan terus dalam keadaan kering? Berbeda dengan musim kering di alam tropis yang biasanya berlangsung selama enam bulan (April-September) dalam setahun, musim kering politik berlangsung lebih lama. Dalam lima tahun, misalnya, musim kering politik bisa terjadi selama empat tahun. Politik akan kembali dibasahi dengan pandangan-pandangan genial, niat penyejahteraan, dan tindakan-tindakan membantu warga miskin menjelang pemungutan suara.

Tidak berkelanjutan
Di masa itu, para politikus akan kembali membicarakan hak warga atas air, lengkap dengan rincian-rincian teknis konkretisasinya. Politik pun disegarkan kembali. Tapi tentu saja tidak berkelanjutan. Dimunculkannya hal-hal yang demikian itu hanya pada waktu-waktu tertentu saja, seharusnya membuat kita paham bahwa yang sebenarnya yang lebih sering dipraktikkan selama ini adalah “politik kadang-kadang”.

Politik yang sebenarnya dirasakan warga beberapa hari saja. Tepatnya di masa mereka --yang tempo hari mengemohi program-program yang tujuannya mengeluarkan masyarakat dari kesusahan hidup-- sedang berupaya merebut/mempertahankan adikara. Bahkan jika “politikus” bermakna “mereka yang mempraktikkan politik”, mereka menjadi sama sekali tidak tepat disebut politikus. Lebih tepat disebut dengan sesuatu yang lain, misalnya pengibul atau dajal.

Menariknya, pengeringan politik tidak hanya terjadi akibat didudukinya jabatan-jabatan publik oleh mereka yang pemikirannya kering; kering ide atau pengetahuan. Pengeringan politik juga dilakukan oleh mereka yang berpengetahuan. Pengetahuan tentang mengatasi dampak musim kemarau ada. Solusi ilmiah dan konkretnya pun ada, seperti perluasan jaringan irigasi atau pembangunan instalasi penjernih air sungai. Tetapi semua itu dikesampingkan karena ada hal lain yang lebih menguntungkan diri.

Maka demikian, politik selalu menghendaki manusia berpengetahuan yang baik hati. Politik bahkan tidak dapat dihadirkan oleh pemimpin-pemimpin dengan pengetahuan yang jika dikumpulkan jumlahnya bahkan lima ribu kali lebih besar dari Jupiter, planet terbesar di tata surya.

Politik lahir dari hasil percintaan antara pengetahuan dengan altruisme yang konsisten, yang dilakukan setiap malam. Dengan pengertian ini, seharusnya orang-orang merasa malu ketika menyebut dirinya “pemimpin”, “politikus”, “sedang berpolitik”, “tokoh politik”, atau “sedang mengimplementasikan ilmu politik” kalau hanya mengatasi kesulitan masyarakat di waktu-waktu tertentu saja.

* Bisma Yadhi Putra, mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Malikussaleh (Unimal)

 


0 Komentar
Tuliskan Komentar Anda
Inputan yang bertanda * harus diisi.