Aceh Research Institute

Menyoal Pro dan Kontra Pembangunan Rumah Sakit Regional berbasis Pinjaman Asing

Menyoal Pro dan Kontra Pembangunan Rumah Sakit Regional berbasis Pinjaman Asing

 

Oleh : Al- Adli Darniyus*

Upaya Pemerintah Aceh dalam menginisiasi Pembangunan Rumah Sakit Regional berbasis Pinjaman Asing menuai pro dan kontra. Ada keinginan mulia dari Pemerintah Aceh dibawah kepemimpinan Zaini Abdullah membangun tiga Rumah Sakit regional antara lain; RumahSakit di Bireun, Aceh Tenggara, Aceh Barat dan di tambah rumah Sakit Kanker yang berpusat pada RSUD Zainal Abidin.

Langkah ini adalah ide yang sangat bagus dan harus segera di lakukan. Kita melihat wilayah aceh sangat luas sehingga masyarakat yang hendak berobat ketingkat pusat akan menempuh jarak begitu jauh. Keadaan pasien bermacam-macambahkan ada yang kritis, karena sebab perjalanan jauh untuk mencapai perawatan terkadang pasien sudah tidak dapat diselamatakanlagi. Kondisi seperti ini banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Mengingat lokasi pembangunan di tiga titik tersebut, kemudahan bagimasyarakat untukmendapat perawatan yang cepat dapat terealisasi. Wilayah tengah dari aceh ada di daerah AcehTenggara, Wilayah Timur Utara ada di Bireun dan wilayah Barat Selatan ada di Aceh Barat. Kemudian pertimbangan lain adalah RSUD Zainal Abidin sampai saat ini dan kedepan akan terus padat karena seluruhwilayah aceh akan berdatangan ke RSUD Zainal Abidin untukmendapatkan perawatan yang baik.

Antrian sangat panjang, jam kerja dokter terbatas dan tenaga  dokter sangat minim. Oleh karena itu, pembangunan rumah sakit regional tersebut meski dilakukan, bahkan salah satu fungsi atau tanggungjawab negara/daerah adalah memberikan jaminan kesehatan dan pendidikan yang baik kepada masyarakat.

Lantas kebijakan yang diambil oleh pihak legislatif (DPRA) melalui usulan dari pihak eksekutif (Gubernur) dengan cara meminjam uang kepada Negara Jerman hari ini hampir semua pihak baik dari mahasiswa, LSM tidak setuju dengan kebijakan tersebut. Seharusnya sebelum mengatakan tidak setuju akan peminjaman uang tersebut, kita harus mengetahui terlebih dahulu apa alasan daripihak pemerintah Aceh, sehingga kita memiliki pandangan yang jernih dan tidak tendensius politis? Sehingga tidak muncul politisasi dan berkedok melimpahnya uang Otsus di Aceh, karena qouta alokasi Dana Otsus sudah diatur pembagian dan distribusinya sesuai dengan dokumen perencanaan pembangunan Tahunan. Sekali lagi mari kita bedah secara tajam dan elegan.

Secara teori pembangunan, dalam mengambil kebijakan untuk pembangunan memang akan ada yang dikorbankan. Penulis menganalisa dari aspek kesejahteraan bidang kesehatan. Aceh belakangan ini dilandabanyak penyakit danmusibah, masyarakat yang sakit tidak ada biaya untuk berobat ditambah biaya transpotasi dari luar Banda Aceh ke Banda Aceh relatif mahal termasuk biaya akomodasi lainnya selama menjaga pasien di Banda Aceh. Langkah itu harusnya juga menjadi pertimbangan bagi kalangan yang kontra.

Lantas hal itu menganggu kesuluruh aspek kehidupan masyarakat bilamana kesehatan masih tanda tanya misalnya pengangguran, pendidikan, penghasilandan lain sebagainya. Secara umum masyarakat menengah kebawah sangatsetuju pembangunan rumahsakit itu karena kesehatan adalah modal paling utama dalam kehidupan bahkan masyarakat tidak memikirkan mengenai utang atau tidaknya yang terpenting ada jaminan kesehatan yang baik. Kita yang kontra dengan kebijakan peminjaman uang karena ada asumsi bagaimana seterusnya ketika membayar utang atau bahkan dana aceh begitu besar, kenapa harus meminjam.

Sedangkan kita tidak memikirkan masyarakat yang sangat membutuhkan Keberadaan Rumah Sakit Regional yang Representatif dan memiliki sarana prasarana yang memadai, termasuk didalamnya dokter spesialis. Mengenai hutang untuk kemudian harimasih bisa di tanggulangi,namun bagaimana penyakit di masyarakatk apa akan bisa di tanggulangi dengan resiko kematian  dan kesusahan bagikeluarganya.

Pertimbangan seperti ini mesti di analisa lebihjauh secara universal. Terlebih lagi terhadap pemerintah harus memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat berkenaan dengan dana yang ada.Oleh sebab itu, langkah awal untuk melanjutkan kebijkan tersebut adalah dengan memberikanjawaban kepada rakyat aceh kenapa harusdengan meminjamuang kepadanegara lain sedangkanaceh memiliki dana yang sangat banyak. Penulis menyarankan andai kata tidak ada alternatif lain dalam pembangunan rumahsakit tersebut maka kebijakan melalui peminjaman itumesti dilakukan meskipun adanya cercaan dari berbagaipihak, karena mengurangi angka kematian jauh lebih mulia dibandingkan dengan membiarkannya. Tinggal kita menimbang-nimbang mana lebih besar mamfaatnya ketimbang mudharatnya. Bukankah kesehatan itu mahal harganya. Wallahu `alam binshawab

 

*Penulis adalah Mahasiswa FISIP UIN Ar-Raniry


0 Komentar
Tuliskan Komentar Anda
Inputan yang bertanda * harus diisi.