Aceh Research Institute

Mensikapi Polemik Logo Baru UIN Ar Raniry

Mensikapi Polemik Logo Baru UIN Ar Raniry

 

Oleh:  Irvan Daraftucy*

Hari jadi merupakan momentum yang sangat ramai diperingati dalam dalam kehidupan, terlepas dari budaya tersebut milik siapa. Sisi positif dari kegiatan tersebut memang lebih ditonjolkan. Jika momen ini dimanfaatkan untuk proses evaluasi seperti sejauh mana keberhasilan yang sudah dicapai, apa permasalahan yang sedang dihadapi, bagaimana berupaya agar lebih eksis, maka manfaatnya akan menjadi hal sangat luar biasa.

UIN Ar-Raniry baru saja memperingati umurnya yang ke 52. Tidak terasa, umur kampus jantong hate rakyat Aceh ini sudah memasuki usia yang sangat matang. Pencapaiannya pun sudah sangat banyak dirasakan oleh masyarakat Aceh terutama dalam bidang mengorbitkan Sumber Daya Manusia, ditambah lagi sumbangan ide-ide kreatif bagi pembangunan Aceh, baik di bidang akhlak maupun agama.

IAIN Ar-Raniry diresmikan pada 5 Oktober 1963 dan pada 1 Oktober 2013 resmi menjadi UIN, oleh karena itu bulan Oktober ini merupakan bulan ulang tahun atau hari jadi UIN Ar-Raniry. Di konversinya IAIN menjadi UIN tentu merupakan kado special bagi seluruh rakyat Aceh, karena hal ini menandakan status kampus tersebut sudah menjadi lebih “hebat” dari sebelumnya. Konversi ini tentu akan melahirkan pembaharuan-pembaharuan dalam berbagai bidang, kemudian juga kiprah UIN akan mejadi lebih besar dalam kehidupan masyarakat Aceh.

Perubahan simbol
Simbol merupakan bagian dari indentitas. Indentitas tentunya akan sangat berarti untuk dapat mengenali sebuah objek. Dengan adanya indentitas tentu objek akan sangat mudah untuk dikenali dan diingat. Biasanya simbol/logo merupakan hal yang sakral bagi mereka yang bernaung dibawah simbol tersebut. Maka biasanya sebuah organisasi yang ingin merubah logo/ simbol akan mengadakan sebuah rapat besar atau biasa dikenal dengan istilah Musyawarah Besar Luar Biasa (MUBESLUB), artinya semua elemen yang bernaung di bawah logo/lambang tersebut akan dilibatkan untuk memperkecil kemungkinan terjadinya polemik dikemudian hari.

Logo atau simbol biasanya sangat representatif dari sebuah organisasi/lembaga, baik dari sudut pandang historis, visi, misi, dan juga daerah munculnya organisasi tersebut. Hal yang demikian memang sangat urgen untuk dipertimbangkan dalam sebuah logo/lambang, jika itu memang menyangkut indentitas.

Penetapan logo/lambang bukan persoalan “asai kana” (asal-asalan) melainkan makna keseluruhan dan menjadi ciri khas organisasi/lembaga tersebut. Maka makna tersebut sangat penting untuk diketahui oleh anggota yang bernaung bawah organisasi/lembaga tersebut.

Pada persiapan logo baru UIN Ar-Raniry contohnya, logo tidak ditentukan oleh personalitas. Untuk menghilangkan sisi personalitas dalam penetapan maka dilaksankanlah sayembara untuk mencari yang terbaik di antara yang baik. persiapannya sudah dilakukan dengan sangat matang dan serius. Penentuan panitia, dan dewan jurinya dilakukan dengan bermusyawarah dan tentunya disertai dengan tema sebagai koridor.

Paradigma baru
Pasca penetapan pemenang sayembara logo UIN Ar-Raniry, maka muncul 3 logo yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan oleh dewan juri. Logo ini diharapkan mampu menjadi kado istimewa bagi seluruh rakyat Aceh secara umum dan mereka yang bernaung di bawah logo tersebut secara khusus.

Dari tiga logo terbaik tentu akan ada satu menjadi terbaik, biasanya yang terbaik dari yang terbaik itulah yang akan digunakan sebagai logo. Namun permasalahnya adalah ketika ada ide baru, tentu akan melahirkan pro dan kontra. Pro dan kontra tersebut tentu sangat dekat dengan kepentingan, hanya saja kepentingan yang berbeda-beda, kepentingan yang berbeda tentu akan melahirkan perbedaan pendapat.

Dengan pandangan baru dewan juri telah memberikan keputusannya terhadap logo tersebut, hanya saja, beberapa elemen enggan untuk mengatakan yes untuk penggunaan logo yang menjadi juara dalam sayembara yang telah dilaksanakan. Muncullah berbagai ke khawatiran dengan melihat logo tersebut secara kasat mata. Ada yang menafsirkan secara ekstrim bahwa logo cenderung terlihat seperti bintang david (sebuah lambang yang umumnya dikenali dari Komunitas Yahudi dan Yudaisme), jika penafsiran ini dilakukan tentu akan menimbulkan kekhawatiran yang sangat mendasar dikalangan masyarakat dan akan menjadi isu yang berpotensi konflik.

Ada juga yang mengatakan bahwa aspek historis berdirinya UIN Ar-Raniry sama sekali tidak tersentuh. Hal ini sangat disayangkan mengingat UIN tersebut didirikan dengan “berdarah-darah” artinya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perjuangan berat tersebut harus dihargai, dan dimaknai dengan seksama.

Dilain pihak juga mempertanyakan perihal simbol/logo tersebut dalam perspektif ke-Acehan, jika dilihat logo tersebut tidak membawa spirit ke acehan sama sekali. spirit ke acehan itu sangatlah urgen, karena UIN merupakan jantong hate orang Aceh, milik orang Aceh tentu spritnya harus ditonjolkan. Merupakan hal yang wajar jika publik menginginkan ada unsur-unsur keacehan dalam logo UIN yang baru itu. Memang terdapat filosofi integrasi antara ilmu keislaman dengan ilmu umum, namun cirikhas ke acehan merupakan hal yang berbeda.

Ragam tafsiran mengenai logo atau simbol UIN yang baru, memang telah menyita perhatian publik Aceh di media sosial beberapa hari terakhir, ragam tanggapan itu menandakan betapa sayangnya masyarakat Aceh terhadap UIN Ar-Raniry, begitu juga para alumni yang punya tanggung jawab moral dan respect terhadap almamater yang pernah mereka pakai dulu. Hanya saja tafsiran tersebut janganlah ditanggapi sebagai “tamparan” bagi pihak yang bertanggung jawab, melainkan sebuah masukan demi kebaikan bersama. Dengan demikian demokrasi tidak hanya dipelajari tapi juga direalisasi.

Jika ingin melihat lebih dalam, logo terkadang juga bukan tolak ukur keberhasilan sebuah lembaga, bahkan hampir tidak ada efek terhadap pembangunan sumber daya manusianya, dengan demikian, bukanlah hal yang sangat penting untuk di permasalahkan, artinya jika memang publik enggan menerima, seharusnya pihak terkait harus mengubahnya, atau memberikan keterangan yang maksimal perihal logo tersebut agar tidak terjadi kegundahan dimasyarakat dengan berbagai asumsi yang berkembang. 

 

*Penulis adalah Mahasiswa Program Pascasarjana UIN aR-Raniry, Warga tuwi kareung, Pasie Raya Kabupaten Aceh Jaya


0 Komentar
Tuliskan Komentar Anda
Inputan yang bertanda * harus diisi.