Aceh Research Institute

Memberdayakan Dayah

Memberdayakan Dayah

Oleh : Tabrani Yunis*

SEBELUM para pembaca melanjutkan bacaan, ada baiknya penulis mohon maaf bila berani menulis tentang dayah ini. Bisa jadi akan menyinggung perasaan, karena menyangkut soal dayah. Namun, hal ini penting, karena ada rasa cinta yang mendalam pada dayah. Penulis sadar bahwa ini hal yang sensitif.

Orang-orang berbaju koko dan menggunakan peci haji dan berselempang itu berjalan mendekati para pengendara mobil dan sepeda motor kala kenderaan berhenti di lampu lalu lintas (traffic light) yang ada di kota. Mereka membawa kotak amal yang bertuliskan “nama dayah pulan dan pulen”. Kotak amal untuk menggalang dana untuk dayah. Kotak-kotak amal milik dayah itu dibawa untuk menampung sumbangan atau sedekah orang yang konon untuk membangun dayah. Para pembawa kotak amal itu, kadang sanggup berlama-lama di bawah terik matahari, bahkan kalau hujan pun ada yang berusaha bertahan. Sungguh sebuah perjuangan yang sangat mulia. Mereka mau berpikir dan bekerja untuk membangun sektor pendidikan yang bernama dayah itu.

 

Kegiatan tersebut dilakukan dengan banyak cara. Ada yang turun ke jalan-jalan dengan membawa kotak amal yang di kotak itu bertuliskan ajakan untuk membantu pembangunan dayah ini, atau dayah itu. Ada pula yang berdiri di tengah jalan dengan memasang rambu-rambu tertentu dan menggunakan kotak, bahkan jaring untuk menahan atau menjaring uang yang mungkin dilemparkan orang saat lewat dengan berkenderaan dan sebagainya.

Ada pula yang berjalan berkeliling dari pintu ke pintu, café ke cafe dan bahkan di beberapa tempat, beberapa orang santri berkeliling pasar dengan menggunakan pengeras suara untuk menyampaikan pesan-pesan agama agar orang-orang yang berada di pasar mau menyumbangkan sedikit dana atau bersedekah untuk pembangunan dayah. Begitulah cara atau strategi yang digunakan banyak dayah di Aceh untuk mencari dana atau menggalang dana (fundraising) yang notabene untuk pembangunan dayah tersebut.

Penggalangan dana
Membaca aktivitas penggalangan dana yang dilakukan oleh sejumlah dayah yang berasal dari beberapa kabupaten yang sering kita jumpai seperti Aceh Utara, Aceh Timur, Bireuen dan lain-lain itu, menjadi indikator dan memberikan sinyal kepada kita bahwa dayah-dayah tersebut sedang kekurangan dana, baik untuk pembangunan maupun dana operasional dayah. Kita selayaknya memahami apa yang sedang melanda dayah dan upaya yang mereka lakukan tersebut. Mustahil sebuah dayah bisa beroperasi tanpa biaya. Apalagi sumber biaya dari para santri tidak bisa ditarik atau didapatkan. Maka, satu-satunya jalan adalah melakukan penggalangan dana publik, dana sumbangan masyarakat.

Lalu, apakah salah untuk melakukan penggalangan dana untuk dayah? Tentu saja tidak salah. Akan lebih baik, bila dayah-dayah itu tidak melakukan penggalangan dana sendiri lewat aktivitas membawa kotak amal di jalan-jalan, atau dengan menggunakan pengeras suara di pasar-pasar, karena secara kasat mata, aktivitas itu menceritakan betapa kurangnya perhatian kita, umat Islam, pemerintah daerah terhadap nasib pembangunan dayah di Aceh. Ya, ketika santri-santri daya tersebut turun ke jalan atau ke warung makan dan lainnya, banyak orang yang melihatnya dengan rasa miris. Ada orang yang langsung berkata, sumbangan apa? Mengapa jauh sekali, hingga datang ke kota untuk mengumpulkan uang untuk dana pembangunan Dayah itu?

Cara-cara yang ditempuh selama ini, sesungguhnya bisa menimbulkan image yang kurang baik terhadap dayah. Selain berkaitan dengan gezah kita, aktivitas penggalangan dana oleh dayah-dayah selama ini dinilai bisa membahayakan mereka yang melakukan aksi penggalangan dana di jalan yang berhadapan dengan bahaya kecelakaan di jalan raya. Jadi, cara-cara yang ditempuh selama ini adalah cara yang berbahaya bagi para aktivis penggalangan dana yang umumnya adalah para santri yang datang dari beberapa daerah yang jauh dari kota Banda Aceh. Bayangkan saja, anak-anak yang ditugaskan itu misalnya harus berdiri di tengah jalan, yang tingkat risikonya sangat tinggi.

Selain itu, bila kita melihat orang-orang yang ditugaskan untuk mencari dana untuk dayah di jalan dan di pasar selama ini, dari pakaian yang mereka gunakan adalah para santri, yang selayaknya mereka belajar di dayah, tetapi kemudian ditugaskan untuk melakukan aktivitas pengumpulan sumbangan ke sana-kemari. Bahkan tidak sedikit anak-anak yang masih di bawah umur ikut terlibat dalam penggalangan dana dayah tersebut. Penglibatan anak-anak dalam urusan ini terkesan bahwa dayah melakukan eksploitasi terhadap anak-anak yang masih di bawah umur, dengan alasan untuk pembangunan dayah. Penglibatan anak-anak bawah umur ini jelas tidak elok dan akan mempengaruhi jiwa anak.

Apalagi, dalam banyak fakta, ternyata anak-anak yang ditugaskan untuk mencari dana tersebut, diracuni dengan fee yang mereka dapat dari setiap kali melakukan kegiatan penggalangan dana tersebut. Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan beberapa aktivis atau anak-anak pencari sumbangan tersebut, mereka mengaku mendapat bayaran atau fee dari kegiatan penggalangan dana tersebut. Fee tersebut sangat menggiurkan. Bayangkan saja, kalau seorang anak mendapat fee sebesar 30-35 persen, maka berapa penghasilannya dalam satu hari? Andaikan seorang anak bisa mengumpulkan dana sebesar Rp 1.000.000 per hari, maka sang anak bisa mendapat penghasilan Rp 300.000-Rp 350.000 per hari, di luar biaya makan. Jadi sangat menggiurkan bukan?

Nah, bila cara ini dipraktikan, maka jelas ini bisa merusak mentalitas anak-anak. Kegiatan ini jelas menimbulkan kesan buruk. lebih buruk lagi kesannya terhadap dayah ketika sering adanya agen-agen pencari dana yang mereka sendiri bukan warga atau santri di dayah tersebut, tetapi orang lain yang bahkan sama sekali tidak tahu dengan aktivitas pembangunan dayah. Mereka mengaku orang dayah tinggal di kota sebagai pengumpul dana, lalu mereka mendapat bayaran dari aktivitas itu.

Kehadiran orang-orang seperti itu mengurangi rasa percaya (trust), keenganan dalam memberikan sumbangan, karena mereka juga diragukan. Apalagi selama ini banyak orang enggan bersedekah karena disinyalir ada pengemis terorganisir yang beroperasi di mana-mana di Aceh, terutama di kota seperti Banda Aceh. Pertanyaan kita adalah mengapa ini terjadi?

Banyak faktor
Ada banyak faktor yang membuat kondisi ini terjadi. Di satu sisi, ada pihak-pihak yang prihatin terhadap nasib anak bangsa yang tidak bersekolah dan tidak mendapatkan pendidikan agama. Namun di sisi lain, keinginan dan kemauan untuk membantu mereka yang miskin dan tidak bisa bersekolah tersebut, tidak didukung oleh kemampuan finansial. Hal lain, juga karena ada pihak-pihak yang kini ingin mengambil keuntungan dari upaya tersebut. Tindakan seperti ini malah akan melemahkan dayah. Apalagi, misalnya, ada berita terkait pencari sumbangan yang diamankan (Serambi, 21/3/2018).

Ketika banyak orang yang melakukan praktik penggalangan dana, mencari sumbangan setiap hari ke ruang publik, maka wajar bila orang-orang bertanya keberadaan badan dayah yang ada di Aceh. Orang-orang bertanya, kalau banyak dayah yang harus meminta-minta ke jalan, untuk apa ada badan dayah? Bisa jadi banyak pertanyaan yang akan muncul.

Oleh sebab itu, sebaiknya, Badan Dayah Aceh mempelajari dan mengkaji hal ini. Selain itu, bila pihak dayah ingin melakukan penggalangan dana, bisa memilih cara-cara yang lebih elegan dan tidak memanfaatkan anak-anak yang seharusnya sedang belajar itu. Bila ini dibiarkan, maka akan merusak image dayah dan bisa lebih luas lagi, yakni wajah orang Islam yang tidak peduli kepentingan dayah.

Kiranya, pemerintah, khususnya pemerintah daerah tidak menutup mata akan hal ini. Pemerinah Aceh harus mengambil sikap. Tentu saja dengan melakukan identifikasi dayah-dayah mana yang saja yang selama ini melakukan praktik itu dan mencari tahu apa yang membuat mereka harus melakukan penggalangan dana dengan cara tersebut. Bila memang lembaga pendidikan yang bernama dayah itu saat ini tidak berdaya dan kehadirannya sangat dibutuhkan, maka Pemerintah Aceh harus memberdayakan dayah dengan baik dan adil.

Bisa jadi, sejak dulu, pemerintah Aceh memang tidak adil terhadap dayah. Hal ini mungkin benar, karena Sekretaris Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA), Tgk Bulqaini, memprotes keras minimnya anggaran untuk dayah di Aceh yang dialokasikan pemerintah via Badan Pembinaan Pendidikan Dayah (BPPD) Aceh. Ulama yang kerap disapa Tu Bulqaini ini berpendapat, plot anggaran Rp 130 miliar sangat tidak memadai untuk mengurus dayah-dayah di Aceh. (Serambi, 20/1/2016).

Maka, menjadi semakin penting bagi Pemerintah Aceh menjaga gezah dayah yang berkontribusi besar terhadap upaya membangun dan mencerdaskan anak bangsa. Apalagi ketika melihat program Pemerintah Aceh sekarang, yang sedang menggelorakan program “Aceh Carong” yang salah satunya memfasilitasi pendidikan dayah. Pemerintah Aceh memang harus konsisten memberdayakan dayah, agar tidak ada lagi anak-anak yang turun ke jalan melakukan penggalangan dana yang kadangkala dianggap ilegal itu. Semoga!

* Penulis adalah Peminat Masalah Pendidikan





0 Komentar
Tuliskan Komentar Anda
Inputan yang bertanda * harus diisi.