Aceh Research Institute

Kopelma Darussalam, Warisan atau Amanah

Kopelma Darussalam, Warisan atau Amanah

Oleh: Dian Rubianty, SE, Ak., MPA*

PERINGATAN Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Aceh pada setiap 2 September, awalnya dicetuskan oleh Bapak Pendidikan Aceh, Prof Ali Hasjmy, merujuk pada sejarah peresmian dimulainya pembangunan Kota Pelajar dan Mahasiswa (Kopelma) Darussalam oleh Presiden RI pertama, Soekarno, pada 1959. Pembangunan ini merupakan satu wujud kebersamaan segenap rakyat Aceh, sebagaimana ditulis Presiden Soekarno di Tugu Kopelma Darussalam: Tekad Bulat Melahirkan Perbuatan Nyata, Darussalam Menuju Pelaksanaan Cita-Cita.

Pembangunan Kopelma Darussalam adalah cita-cita besar yang berlandas pada keyakinan, bahwa untuk membangun Aceh yang bermartabat dan sejahtera, perlu didirikan sebuah pusat pendidikan di Aceh. Pusat pendidikan ini dinamakan Darussalam, yang berarti tempat/negeri yang penuh kedamaian/kesejahteraan (terjemahan tafsir Ibnu Katsir). Nama ini sesuai dengan cita-cita pendiriannya, menjadikan tanah Aceh sebagai negeri yang damai sejahtera, setelah sekian lama menjadi Darul Harb karena perang melawan kolonialisme dan konflik politik pasca kemerdekaan RI.

Rakyat berharap, kelak, Darussalam akan menjadi “ladang” tumbuhnya “Angkatan Darussalam”, insan cerdas berbudi luhur yang akan mengabdikan ilmunya untuk kebaikan umat manusia demi ridha Allah semata. Begitulah yang digubah T Djohan dalam karyanya “Mars Darussalam”.

Setiap 2 September, sejarah peringatan Hardikda Aceh ini kita baca di berbagai media. Sejarah yang setiap tahun kita kenang dalam upacara perayaan dan kita meriahkan dengan berbagai lomba. Mungkin setelah 55 tahun perjalanan cita-cita besar rakyat Aceh tersebut, hari ini adalah satu hari yang tepat, untuk merenungkan kembali makna keberadaan Darussalam bagi masing-masing kita. Karena bagaimana kita memaknai keberadaan Darussalam, akan menjadi langkah pertama dalam perjalanan kita melahirkan perbuatan nyata untuk Aceh yang lebih sejahtera.

Suatu titipan
Warisan adalah sesuatu yang kita peroleh sebagai pusaka yang ditinggalkan oleh generasi sebelum kita. Pada warisan melekat kepemilikan, melekat hak. Sementara amanah adalah suatu titipan yang kita terima sebagai kepercayaan pihak lain kepada kita. Amanah bukan hak milik, padanya melekat sebuah tanggung jawab yang besar (sumber: KBBI online). Dari dua definisi ini, tentunya sikap kita memandang Kopelma Darussalam akan sangat berbeda, tergantung dari pilihan kita.

Apabila kita menganggap Darussalam adalah warisan, maka kita merasa berhak untuk mendapat sebanyak-banyak manfaat dari keberadaannya. Mulai dari menjadikan Darussalam sebagai tempat mengembangkan ilmu dan kemampuan, sehingga cukup bekal untuk memperoleh penghidupan yang layak dan pengembangan karir yang dicita-citakan; hingga menjadikan Darussalam sebagai sekadar “kanot bu” untuk mencukupi kebutuhan materi, yang seringkali susah ditentukan kapan “cukup”-nya.

Bagi yang memandang Darussalam sebagai amanah, pekerjaan panjang tentu masih menunggu untuk kita perjuangkan. Karena cita-cita dan harapan rakyat Aceh yang diamanahkan melalui pendirian “Jantung Hati Rakyat Aceh” ini memang belum selesai.

Satu harapan rakyat dengan mendirikan kota pelajar dan mahasiswa adalah lahirnya cendikia. Cendikia yang dimaksud bukanlah sekadar ilmuwan yang mumpuni di bidang keahliannya. Cendikia sejatinya adalah sebagaimana yang disebut Ali Shariati sebagai The Enlightened, mereka yang tercerahkan. Cendikia adalah mereka yang dengan ilmunya menjadi jembatan, menjadi wakil rakyat untuk menyuarakan segenap persoalan masyarakat pada penguasa.

Peran insan kampus sebagai kaum yang tercerahkan dan mendobrak ketidakadilan yang terjadi dalam masyarakat, sudah berkali-kali dicatat sejarah. Banyak gerakan perubahan yang berawal di kampus. Lahirnya Angkatan 66, lengsernya Soeharto pada 1998 dan berakhirnya rezim Orde Baru adalah beberapa peristiwa yang menunjukkan peran penting insan kampus dalam menyuarakan realita dan mempercepat terjadinya perubahan di Tanah Air.



Bagaimana dengan Darussalam? Darussalam juga sudah dan akan terus melahirkan cendikia-cendikia yang telah dan akan tetap berbuat banyak untuk rakyat. Namun meminjam istilah Malcom Gladwell, jumlahnya belum cukup untuk menciptakan critical mass yang akan menjadi tipping point (titik-balik perubahan) menuju Aceh yang lebih baik dan lebih sejahtera.

Kita masih harus terus berusaha, misalnya untuk melihat tenaga-tenaga pendidik lulusan Darussalam memberi warna pada dunia pendidikan di Aceh yang perkembangannya belum begitu menggembirakan. Mahaguru yang mengabdi di Fakultas Ilmu Pendidikan dan Keguruan (FKIP), yang memandang Darussalam sebagai amanah, mereka adalah “bidan-bidan” profesional yang dari didikan dan pembinaan mereka diharapkan lahir tenaga pendidik sejati. Pendidik yang memandang anak didik sebagai pembelajar. Bukan bahan baku layaknya sebuah industri.

Dengan kesejahteraan guru yang terus ditingkatkan pemerintah, sudah selayaknya kita berharap akan lahirnya guru berkualitas. Karena guru berkualitas adalah kunci utama yang menentukan wajah dunia pendidikan Aceh.

Selain itu, kita juga sabar menanti hadirnya tenaga-tenaga medis lulusan Darussalam terus berjuang untuk tingkat kesehatan dan pelayanan kesehatan publik yang lebih baik. Dan, kita masih terus berharap, pakar-pakar ekonomi lulusan Darussalam akan terus berjuang, berada di tengah-tengah rakyat untuk bersama menciptakan ekonomi kreatif yang akan memicu pertumbuhan ekonomi Aceh.

Angkatan Darussalam
Jika masa titik-balik ini tiba, kita punya cukup kaum cendekia Angkatan Darussalam untuk membawa perubahan, bukan tidak mungkin kita melihat Aceh bangkit seperti Jepang setelah peristiwa Hiroshima dan Nagasaki. Selain menjadi penyambung lidah rakyat, cendikia juga menghadirkan keteladanan. Demikian sepatutunya cendikia di bumi syariah ini hadir, sebagaimana Islam diajarkan oleh Rasulullah saw melalui sosok beliau sebagai teladan yang mulia.

Setiap mahaguru dan staf di lingkungan kampus Darussalam, baik dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) maupun Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, adalah representasi teladan dunia pendidikan. Amanah yang tentunya tidak semudah ucapan. Tidak terbayangkan titik-balik perubahan yang terjadi di Aceh jika setiap insan Darussalam tampil sebagai pelopor perubahan, menjadi teladan di berbagai bidang.

Sebagaimana kita maklum, “saat ilmu pengetahuan melayani iman, lahirlah peradaban” (Salim A. Fillah, 2014). Hadirnya sistem akustik di Masjid Cordova, adalah bukti nyata ketika ilmu pengetahuan diabdikan untuk melayani iman. Tidak terbayang bagaimana para arsitek dan ahli pada masa itu merancang bangunan masjid sedemikian rupa, sehingga ceramah Imam Al Ghazali bisa didengar oleh ribuan muridnya. Padahal pada waktu itu tidak ada sound system atau pengeras suara secanggih saat ini.

Bagaimana dengan Darussalam? Jawabannya terpulang pada setiap kita. Tergantung, bagaimana kita memandang dan menempatkan Kopelma Darussalam, sebagai “amanah” atau “warisan”; melihat Darussalam sebagai “kewajiban dan tanggung jawab” atau sekadar sebuah “hak”.

*Penulis adalah Fulbright Scholar, tinggal di Banda Aceh. Email: dian.rubianty@gmail.com. Tulisan ini telah dipublis di Harian Serambi Indonesia.


 


0 Komentar
Tuliskan Komentar Anda
Inputan yang bertanda * harus diisi.