Aceh Research Institute

Filosofi Kotoran

Filosofi Kotoran

Oleh Farah Rozana*

 

Hari itu, adalah hari berat bagiku. Hampir saja aku membuat alasan bahwa aku sedang sakit kepala pada ibuku, akibat keenggananku bersekolah. Aku bahkan sangat muak untuk bertemu siapapun. Tapi, semua itu batal, sebab aku tidak ingin kalah dimata dia. Dia adalah Rivalku disekolah. aku dan dia saling bermusuhan dalam segala hal, dalam hal pertemanan, belajar, juara kelas, dan bahkan dalam keheningan masing-masing dengan hati yang sama-sama mengumpat. Kemarin, baru saja kami saling bertatapan tajam dengan alasan presentasi biologi. Ia lupa menghafal beberapa tugas yang diberikan bu Marham, dan terpaksa ia presentasi dengan hasil yang cacat. Berbeda denganku, yang dari semalam sudah kupersiapkan dengan matang dan lengkap, hingga jatahku untuk mengunggulkanku dari yang lain, membuat dia begitu geram dan marah padaku.

“Cie yang presentasinya keren, tapi nggak bagi-bagi.” Suara serak beratnya yang begitu kubenci berdengung seantero kelas dan membuat semuanya menjadi hening. “Oh iya, ya, kalo dibagi, nanti jadi nggak the one and only dong.” Tambahnya lagi menyindirku dengan begitu dalam. Aku tahu dan semua orang dikelas itu tahu bahwa yang ia maksud adalah aku. kugenggam erat kedua tanganku dan kuredam amarahku seorang diri. Satu sisi aku sadar bahwa ia bersuara seperti itu dikarenakan ia merasa kalah hari ini, namun disisi lain harga diriku lagi-lagi sedang diinjak. Ingin rasanya aku bangkit dan menyiram wajah bulatnya dengan seliter air got. Namun, lagi-lagi kutahu semua tidak mudah, dan aku memutuskan untuk diam saja dan menyibukkan diriku yang sedari tadi tenggelam dalam bisik-bisik anak kelas dengan membaca buku.

Waktu berlalu, hingga istirahat hari ini tiba. Aku lupa kapan aku tiba disekolah hari ini. walau belum ada kejadian bertemu dengan orang yang kubenci hari ini, namun tetap saja hatiku begitu berat untuk melakukan apapun. Aku memandang sekitar, banyak siswa yang memilih keluar daripada duduk dikelas. Hanya aku, si Mima gendut dan Rinni yang si novel addict yang tinggal disana bersamaku. Dari beberapa meter, aku menatap Rini yang wajahnya tertutup dengan novel tidak bestseller yang sedang ia baca dengan khidmat. Memang sudah bukan rahasia bahwa banyak siswa yang datang padanya untuk curhat maupun meminta saran.

Namun, aku sama sekali tidak pernah melakukan hal itu, bahkan aku tidak percaya pada kata-katanya yang diam-diam sempat kudengar ketika ia memberi nasehat pada Ranti yang terobsesi makan, untuk keberhasilan dietnya. Akan tetapi, tiba-tiba sebuah hawa membisikkan bahwa ide bagus untuk duduk didekatnya saat ini. aku pun melaksanakan keinginanku, kuletakkan buku “Menyambut UN” yang begitu tebal didepanku dan bangkit menghampirinya.

Sepetak buku yang terbuka itu, memang tidak bergerak sedikitpun dari jangkauan matanya, meskipun dia tahu bahwa aku telah tiba untuk duduk disampingnya dan menganggu konsentrasinya.

“ Ni?” mulaiku. Ia hanya menjawab dengan gumaman. “ Apa yang akan kamu lakukan, kalo kamu punya orang yang kamu benci banget? Tapi—”

“Tapi kamu nggak bisa menghindar dari dia?” sambungnya, memotong kalimatku, dengan nada menanyakan bawa dugaannya benar. Dia telah meletakkan novelnya jauh-jauh dari matanya, namun masih digenggamnya. Matanya bergeser kearahku. Aku langsung mengangguk perlahan tapi yakin.

“Semalam, kamu nggak bisa tidur kan?” ia melontarkan pertanyaan, yang menurutku sangat aneh untuk situasi sekarang ini. keningku sedikit mengernyit akibat bingung, namun kuangguk lagi kepalaku, seakan pertanyaanya hanya perlu diyakan. Ia menghela nafas dalam dan berat, dengan bibir yang dikatup erat seakan menemukan jawaban yang memprihatinkan “Berarti salahnya dikamu.” Jedug! Aku hanya semakin mengernyit heran, dan menunggu kalimat lain darinya, untuk mengobati seribu pertanyaan dihatiku.

Lehernya bergeser dan membawa matanya untuk menatap lurus kedepan, meninggalkan keberadaanku disampingnya. “Kamu salah, sebab membiarkan rasa itu bersarang dihatimu.”

“Ra, rasa?”

“Rasa benci, yang selama ini jadi racun dalam diri kamu,” mata hitam sayunya menatap daftar piket kelas dengan seksama, namun aku merasa ia seperti sedang menerawang jauh. sekilas aku mencuri pandang pada Mima yang sedang menyuap nasi lemaknya, memastikan aku tidak sendiri bersama Rini disana. Rasa aneh mencoba menjalar diseluruh tubuhku, sebab siswi kerasukan bukan hal yang asing disekolah-sekolah.

“Tai!” mataku, membulat besar mendengarnya mengucapkan hal itu. “ jadikanlah ia seperti tai yang hanyut dibawa oleh gelombang sungai yang sepoi.” Tiba-tiba lehernya bergerak lagi, memutar kearahku dengan cepat, dan kali ini tatapannya berbeda, begitu memburu dan berapi-api. Kedua tangannya menggenggam bahu kiri dan kananku, dengan matanya menusuk dua bola mataku yang semakin besar pupilnya.

“Kamu pernah liat kan, kotoran manusia yang hanyut disungai?” aku mengangguk cepat dan kagok. “Baiklah, sudah sekarang anggap saja rasa benci mu pada dia itu adalah kotoran itu, yang tugasmu hanyalah membiarkannya. Biarkan ia hanyut, jangan dipanggil, jangan dilihat, jangan diladeni, apalagi sampai dicubit atau dipukul, sebab akan merusak kebersihanmu sendiri. Biarkan ia dimakan oleh ikan, atau senyawa-senyawanya terurai oleh air, biar menghilang sampai tidak lagi membekas.” Mendengar semua hal itu, membuatku meneguk salivaku, dan membiarkan matanya yang masih menusuk bola mataku dengan kedalaman yang tidak bisa kuukur. Aku mengangguk dan mencoba mengukir sebuah senyum diujung bibirku. “Ngerti!?”

“O...Okey. thanks. ” ucapku, mencoba memasang ekspresi sangat mengerti.

“Good.” Ucapnya singkat. Kedua tangan kurusnya melepas bahuku, begitu pun jeratan matanya. Ia perlahan-lahan tidak lagi memburu dan berapi-api, badannya berpindah dari posisi menyamping dan kembali lurus kedepan, menggenggam novelnya lagi, membuka tepat di halaman terakhir yang tadi ia baca, terlihat sudah begitu tebal kekiri. Dan suara bel masuk berbunyi, menjadi aba-aba bahwa aku harus meninggalkan dia..

Sekolah hari ini berakhir memang seperti kemarin atau kemarinnya lagi. Aku pulang dan yang lain pun pulang. Diperjalanan yang kufikirkan adalah sebuah filosofi aneh yang datang dari orang aneh, yang dengan aneh kudatangi hari ini. aku heran entah buku apa yang ia baca hingga ia membuka sebuah sekat diantara hati dan kotoran yang hanyut disungai itu. diujung bibirku tiba-tiba tertarik sebuah senyum, geli bercampur bahagia.

“ Woi!”

Senyumku hilang. Aku menganggkat pandangan, dan benar saja itu adalah Ratna, rival, musuh, orang yang kubenci. Perasaan benci kemudian berkecamuk dalam diriku, erat-erat kugenggam tanganku dan gemertak gigi yang kusembunyikan.

“Hai, Halin. selamat ya. ternyata pengorbananmu selama ini nggak sia-sia. Akhirnya kamu dapat juga perhatian dari ibu Marham. Minggu lalu kan, kamu masih bodoh. Perbedaan teori Darwin sama Lammarck aja kamu masih ketuker kan, kemaren.” Ia tersenyum sinis padaku, sorot mata kebenciannya berusaha menusuk hatiku. “Yah, tapi kita lihat aja nanti, siapa yang akan menjadi yang pertama. Sebab orang bodoh hakikatnya memang akan selalu bodoh.”

Hanyut....hanyut...hanyut....

Genggaman tanganku mulai renggang, dan gemeretak gigi bahkan tak kudengar lagi. Aku menarik nafas sambil merasakan sejuknya oksigen dan melepaskannya kembali. Senyum yang hampir terlihat datar akhirnya terbentuk dibibirku. Aku mengangguk pelan. “Iya, Ratna.” Jawabku singkat, lalu satu langkah kuambil kesamping kanan untuk menggeser diriku yang ditutupi tubuhnya, lalu langkah-langkah selanjutnya kuambil menuju gerbang sekolah, menuju jauh darinya yang masih disana memandangku dengan heran dan geram. Tapi aku tidak peduli, aku hanya perlu pergi dan tidak menghiraukan, tidak menggubris, bahkan tidak kulihat lagi.

Aku tersenyum, senyumku semakin lebar hingga mencapai mataku. Senyum ini kurasa tidak hanya diwajahku, namun juga dihati dan perutku yang dipenuhi kerlap-kerlip. Mulai hari ini, diperjalanan menuju detik-detik selanjutnya, kuizinkan daun untuk menimpuk kepalaku, dan kubiarkan emak-emak untuk menyebrang kekanan dengan sen kiri mereka, serta tak kuhiraukan Ratna yang besok masih kutemui, sebab hari ini aku adalah pengikut sebuah filosofi yang sederhana dan begitu dekat dengan manusia. Filosofi untuk membiarkan, filosofi untuk tidak diapa-apakan. Filosofi Kotoran yang membuana di sungai.

 

*Penulis adalah Peserta Jurnalistik Remaja Masjid Raya Baiturrahman Aceh

 


0 Komentar
Tuliskan Komentar Anda
Inputan yang bertanda * harus diisi.