Aceh Research Institute

Direktur ARI dengar keluhan Warga Meukek atas “klaim illegal logging” hutan lindung

Direktur ARI dengar keluhan Warga Meukek atas “klaim illegal logging” hutan lindung

Hembusana angin politik puting beliung, kian kencang menerpa bumi Tuan Tapa, Kabupaten Aceh Selatan menjelang Pilkada Kepala Daerah 2018, berbagai tudingan miringpun dihembus dalam ranga mematikan gerakan sang petahana guna melanjutkan kepemimpinannya. Aroma itu kental tercium ungkap Abu Heri Roterdam warga meukek yang juga berprofesi sebagai petani pala, minggu 15 Oktober 2017 di forum Focus Group Diskusi (FGD) ; “menyoal illegal logging” bersama Aceh Research Institute (ARI) di Cafee Loknga.

Lebih lanjut Abu Heri Roterdam menjelaskan dengan detail pada FGD “menyoal Illegal logging” di sekitar pegunungan Jambo Bate Gampong Papeun, Meukek, Aceh Selatan adalah kebun ulayat warga Meukek dari jaman sebelum merdeka.

Jambo Bate, Gampong Jambo Papeun dikenal sebagai pusat pertanian Pala, Nilam dan Durian sejak puluhan tahun. Letak geografis yang sangat subur menyebabkan banyak warga meukek berkebun diwilayah itu, bukan hanya masyarakat sekitar, akan tetapi warga Meukek seperti Pulumat dan Labuhan Haji mengadu nasib sebagai petani di Meukek, ungkap Abu Heri Roterdam.

Kami sudah cukup lama menggarap tanah disana. Sementara Hadi Irami, Keucik Jambo Papen sangat terkejut dengan pemberitaan yang terkesan tendesius bahkan cendrung tidak sesuai dengan Fakta yang terjadi. Sejak Tahun 1918 nenek monyang kami telah menggarap kebunb (hasil pertanian) diwilayah gunung yang diklaim sebagai hutan lindung. Lokasi tersebut sudah menjadi hak ulayat (hukum adat) dengan berbagai bukti diantaranya adanya pohon durian, rambutan, simantok, bakau, pinus.

Pemberitaan yang direalise dimendia online akhir-akhir membuat warga jambo papeun dan sekitarnya menjadi dilema. Hal yang sama diperkuat oleh Sasmin Sekdes Jambo Papeun. Sebagai informasi warga jambo papeun 80 % petani/ berkebun, Kebun (Tani) adalah urat nadi perekonomian kami. Kami tentu tidak terima kalau wilayah itu dinyatakan sebagai hutan lindung, lalu bagaimana nasib kami, andai nanti diklaim sebagai hutan lindung, dinama kami bisa menafkahi keluarga dan menyekolahkan anak-anak kami, ungkap Sekdes yang diamini Tuha Peut dan Tokoh Pemuda Jambo Papeun. Insya Allah malam selasa kami akan duek pakat seluruh warga untuk berdoa dan minta kekuatan Allah, agar kasus ini ada solusi yang bijak.

Hal yang sama juga disampaikan oleh M. Kadir MY Ketua Tuhapuet Gampong. Selaku masyarakat dan aparat gampong kami sangat kecewa dan sedih jika baru sekarang diklaim sebagai hutan lindung. Lokasi reboisasi hutan yang digarap oleh Habibi justru sangat membantu warga jambo papeun, bahkan kami merasa bermamfaat karena semak belukar menjadi jalan yang mudah dilalui oleh petani, bahkan toke atawa pedagang langsung bisa mangkal dan melakukan transaksi hasil pertanian di lokasi yang diduga dijadikan ilegal loging. Kami mohon agar Bapak Gubernur dan Anggota DPRA dan DPRK bantu kami warga yang lemah. Jangan mudah percaya kepada informasi yang dihembus demi kepentingan politik ansich, Sementara Aziman Anggota Tuha Peut Gampong dan Tokoh Pemuda Jambo Papeun berharap agar masyarakat harus dibela. Karena lokasi yang diduga dijadikan ilegal loging tersebut sebagai pusat perekonomian warga jambo papeun. Kalau dianggap itu wilayah hutan lindung, maka kenapa kami tidak pernah disosialisasikan.

Aziman memaparkan kepada ARI, bahwa disamping lokasi hutan tersebut banyak kebun warga yang sudah lama dan turun temurun, bahkan ada kebun masyarakat yang dihibahkan yang hasilnya dijadikan sebagai pusat kegiatan keagamaan warga. Kami akan tetap berjuang dan warga menolak lokasi tersebut dijadika hutan lindung. Sepanjang lokasi itu dulunya menjadi “primadona pertanian” meukek, seperti pala, durian dan rempah-rempah. Memang akhir-akhir ini pala dan durian suda banyak yang mati akibat penyakit yang belum ditemukan obatnya. Dulunya sekitar gunung tersebut ditamami pala wija, seperti kacang-kacangan. Sepanjang lokasi area yang diduga ilegal loging berbatasan dengan panton jamok, sengseng, alu sayap, panton sikabu dan panton pip yang semuanya menjadi kebun warga meukek secara turun temurun.

Mendengar keluhan dan kerisauan tokoh masyarakat warga jambo papeun, maka Muhammad Syarif Direktur Aceh Research Institute, meminta gubernur Aceh agar mendengar suara rakyat. Karena sesungguhnya suara rakyat adalah suara kebenaran. Syarif  ikut prihatin, kenapa baru sekarang mencuat kepermukaan, ada aroma lain yang patut diduga digoreng oleh pihak-pihak tertentu sehingga menjadi bola liar menjelang pemilihan kepala Daerah serentak di Aceh Selatan. Dugaan ini tentu bukan tanpa alasan, untuk membuktikannya coba tim independen tanya langsung pada warga yang menggarap kebun dilokasi tersebut. Jika ingin diusut dengan tuntas siapa yang benar dan siapa yang salah. 


0 Komentar
Tuliskan Komentar Anda
Inputan yang bertanda * harus diisi.