Aceh Research Institute

Dimana Azan Berkumandang…

Dimana Azan Berkumandang…

 

Oleh: Hasnanda Putra*

Berbagi dengan Alkaf
Catatan tentang Hubungan Pidie dan Aceh Rayeuk

***

Bung Alkaf, bolehkah kita membagi cerita, sesuatu yang umum, biasa tapi unik dan kadang jadi sensasi sendiri. Sekedar berbagi cerita sambil menghirup harumnya kopi gayo di warung Aceh.

Saya terlahir sebagai putra Tangse, tentu orang dengan lancar menyebut awak Pidie. Dulu ketika saya menjabat presiden (istilah sekarang) mahasiswa Universitas Serambi Mekkah, saya lengkapi nama saya menjadi Hasnanda Putra Tangse. Suatu waktu ketika saya menjabat ketua umum HMI cabang Aceh Besar gelar tempat lahir saya hilangkan. Beberapa sahabat protes sekaligus ajukan pertanyaan “bek kabeh nan gampong, nyan tanoh indatu tanyo”. Saya sadar bahwa langkah itu tidak populis dimata orang-orang tempat lahir saya, tapi terus terang karena nuansa dan dinamika kala itu sedang naik turun hubungan dua daerah ini maka demi kepentingan yang lebih besar saya harus lakukan itu.

Bila kita mentamsilkan ibarat sebuah rumah apapun bentuknya keduanya saling memiliki.
Pidie adalah dalam rumah, maka Aceh Rayeuk adalah pintu. Untuk menuju dalam rumah tentu eloknya melewati pintu, tidak mungkin lewat jendela karena itu jalannya kriminal. Terus kalau sudah dipintu masuklah ke dalam, jak beutroh kalen beudeuh bek rugoe meuh saket hate. Dipintu anda belum mendapatkan utuhnya sebuah rumah, anda harus masuk untuk melihat bagaimana rumah sebenarnya tapi jangan lupa daun pintu bisa menunjukkan permulaan bagaimana isi rumah. Maka buatlah pintu sebaik mungkin, siapa tahu tamu tidak sempat masuk.

Seulawah adalah landmark Aceh, lihatlah bagaimana yang Kuasa sudah membagi dan mewarnai hubungan Pidie dan Aceh Rayeuk. Seulawah àgam yang tegak dan kuat berada di Aceh Rayeuk, sebelah nya Seulawah dara melambai lembut di negeri Pidie. Keduanya ibarat keluarga, sang ayah yang perkasa dan bijak selalu menjaga ibu yang lemah lembut. Subhanallah, alam saja memaknai begitu indah dan harmonisnya sebuah keluarga seulawah.

Alkaf, putra montasik, negeri agung tempat Tgk Chik Ditiro berjuang sampai ajal menjemput. Tiro pidie tulen tapi tinggal di Aceh Rayek. My hero Tiro adalah wajah hubungan dua daerah yang melegenda. Sebagian dari keluarga Tiro masa silam masih berada dalam seputaran Montasik sampai Buncala dan sejalur dengannya.

Kami berdua saling diskusi dan berbagi cerita, paling sering kami bicara tentang Abu Beureueh, nah lagi-lagi terdapat benang emas hubungan mesra kala Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) berjaya. Masih ingat ketika Cumbok tempat markas Daud Cumbok tidak bisa ditembus dan pasukan PUSA makin terdesak. Singkat cerita datang bala bantuan dari Montasik-Seulimum dari Aceh Rayeuk dan Tangse Pidie mengempur Lamlo membela Abu Beureueh, yang pada akhirnya Cumbok takluk.

Lantas, anda ingat rambutan dan langsat, rasanya yang manis dan mendunia hanya ada disini Aceh Rayeuk, lalu cobalah rasa durian Tangse, dapatkah buah-buahan itu saling bertukar tempat, boleh jadi bisa tapi Tuhan sudah bagi keadilan dan kesejateraan bahwa rasa itu tidak bisa menipu. Rambutan ya montasik indrapuri, durian ya Tangse.

Tahun depan adalah momen politik , hubungan keduanya akan kembali teruji. Andai keduanya saling berpasangan dan Allah kabulkan niat baik dan ikhtiar itu, bisa jadi hubungan manis penuh romantis sejak terpatri dalam darah Sultanah Ratu Safiatuddin yang agung terjaga dan terawat. Buah cinta Sultan Rayeuk Iskandar Muda dan permaisuri dari negeri Pidie sampai ke kita di zaman penuh romantika.

Bagaimanapun diantara kita tidak pernah me-request minta pesan tempat lahir. Allah yang kuasa sudah mengaturnya dengan indah. Negeri tanah air saya dan bung Alkaf bukanlah hanya Tangse dan Montasik, negeri kita lebih dari itu. Sungguh negeri tanah air kita seperti kata Edogan, dimana azan berkumandang disitulah tanah airku.

* Penulis adalah Sekretaris Badan Kesbangpolinmas Kota Banda Aceh.


0 Komentar
Tuliskan Komentar Anda
Inputan yang bertanda * harus diisi.