Aceh Research Institute

Digitalisasi Pariwisata Aceh untuk mendukung World Halal Tourism

Digitalisasi Pariwisata Aceh untuk mendukung World Halal Tourism

oleh: Jurnalis J Hius*

Alhamdulillah, di penghujung tahun 2016 Aceh mendapatkan penghargaan bergengsi level dunia pada World Halal Tourism Award (WHTA) 2016 di Abu Dhabi, UEA, 24 Oktober-25 November 2016. Penghargaan yang membawa nama Indonesia ini menambah kecemerlangan Pariwisata Indonesia yang meraih juara umum WHTA dengan menyabet 12 dari 16 kategori yang disediakan. 

Bersama Sumatera Barat dan NTB, Aceh didaulat menjadi potensi utama Wisata Halal Indonesia dengan berbagai kategori. Aceh sendiri meraih 2 penghargaan, yakni World's Best Airport for halal travellers, Sultan Iskandar Muda Airport dan World's Best Halal Cultural Destination, Aceh. Penghargaan ini sekaligus mematahkan dominasi Malaysia dan Turki yang selama ini menjadi tujuan utama wisatawan muslim di Dunia.

Bila kita berwisata ke Turki atau lebih dekat lagi ke Malaysia, memang sangat banyak wisawatan dari Timur Tengah yang datang secara rombongan dan menikmati wisata dengan sangat royal, berbeda dengan wisatawan dari negeri barat seperti Eropa dan Amerika yang biasanya datang berpasangan dan berwisata ala backpacker. Wisatawan dari Timur Tengah yang didukung dengan finansial mumpuni memang menjadi incaran potensi wisata tidak hanya di Malaysia yang notabanenya adalah negara muslim, tapi juga negara non muslim seperti Singapura, Thailand, Jepang dan Taiwan.

Thailand menetapkan aturan untuk setiap food court harus menyertakan 1 counter yang halal agar dapat dikonsumsi oleh warga dan wisatawan muslim. Singapura pun menetapkan aturan agar setiap restoran yang memang tidak menyuguhkan makanan haram agar melabeli restoran mereka dengan label halal melalui proses sertifikasi otoritas yang ketat. Usaha ini tidak lain adalah untuk menjamin bahwa negara mereka nyaman dan aman untuk didatangi oleh wisatawan Timur Tengah.

Sumatera Barat dan NTB telah lama menjadi incaran wisatawan muslim dari seluruh daerah Indonesia dan berbagai negara di Dunia, demikian juga Aceh. Bedanya, Aceh belum banyak dikunjungi oleh wisatawan Timur Tengah seperti halnya Bali, Lombok dan Sumatera Barat. Padahal Aceh lebih dekat dengan Timur Tengah, baik dari sisi sejarah, maupun hubungan diplomatik keislamannya.

Bila dianalisa dengan data, wisatawan yang masuk ke Indonesia tahun 2015 dan 2016 terbanyak berasal dari Singapura, Malaysia, Jepang, Korea dan China, tidak banyak yang berasal dari Timur Tengah (Sumber: BPS). Asumsi awal, bila warga negara tersebut datang ke Indonesia, mereka tidak perlu sertifikasi halal untuk berlibur, datang, makan, mandi di Indonesia, karena tidak banyak yang muslim datang ke Indonesia, kecuali Malaysia.

Hingga Mei 2016, jumlah wisatawan yang datang ke Indonesia mencapai 4.5 juta orang, dimana tetap didominasi oleh warga Singapura, Malaysia, Australia dan China. Tujuan utama mereka adalah Bali, Bintan dan Lombok.  Dominan wisatawan datang ke Indonesia dari 3 pintu utama, Bandara Soekarno Hatta Jakarta, Bandara Hang Nadim Batam dan Bandara Ngurah Rai Bali, tidak banyak yang datang dari Bandara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh, karena pesawat international yang hilir mudik di Bandara ini pun tidak banyak.

Sinkronisasi Penghargaan WHTA ke Pariwisata Aceh

Penghargaan WHTA tidak memiliki arti apapun, bila wisatawan yang datang ke Aceh tidak meningkat, terutama wisatawan muslimnya. Alhamdulillah berdasarkan data BPS Agustus 2016 mencatat, jumlah wisatawan yang datang ke Aceh meningkat pesat menjadi 6.552 orang dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang hanya 2363 wisatawan. Namun wisatawan terbanyak yang datang bukan berasal dari negara Muslim, namun berasal dari Australia, Malaysia dan Filipina yang datang ke Aceh untuk menikmati indahnya alam Aceh. Secara kumulatif, wisatawan Malaysia masih mendominasi pengunjung Aceh, selain mudahnya transportrasi antar dua daerah, budaya dan makanan Malaysia dan Aceh sangat mirip, sehingga mudah dalam berwisata.

Dengan diraihnya World Best Halal Cultural Destination untuk Aceh, mestinya hal ini menjadi pemicu meningkatnya wisatawan Muslim lainnya yang datang ke Aceh. Tanpa mengurangi rasa hormat pada muslim dari negara lain, wisatawan dari Timur Tengah adalah potensi pasar yang sangat menjanjikan untuk dibidik, karena pariwisata juga adalah tentang promosi ke pasar.

Aceh memerlukan promosi yang tidak hanya mengandalkan event pameran, expo atau sejenisnya yang memakan banyak dana dalam penyelenggaraan, tapi Aceh butuh tipe promosi baru untuk memberitahukan kepada dunia bahwa Aceh layak dikunjungi, aman, nyaman dan ramah.

Menteri Pariwisata Republik Indonesia yang juga sekaligus mantan Dirut PT. Telkom Indonesia dalam berbagai kesempatan sangat menganjurkan untuk melakukan Digitalisasi Pariwisata Indonesia. Karena dengan cara Digital, promosi wisata dapat dilakukan setiap detik, jangkauan potensi pasar yang lebih meluas, biaya yang sangat murah serta mampu menampilkan konten-konten digital yang membuat calon pengunjung berkeinginan untuk datang.

Promosi secara digital harus dijadikan kekuatan utama Dinas Pariwisata Aceh dan elemen terkait untuk mempromosikan Aceh ke dunia luar, terutama pasar negara Timur Tengah, apalagi untuk mendukung raihan penghargaan WHTA 2016. Promosi tidak cukup hanya sampai memenangkan penghargaan, karena Pariwisata yang lebih luas adalah tentang kunjungan wisatawan, pengenalan Aceh sebagai daerah Serambi Mekah dengan budaya dan sejarah Islamnya dan yang paling penting Pariwisata dapat meningkatkan ekonomi masyarakat dengan penjualan kuliner, souvenir, jasa guide, perhotelan, transportrasi lokal dan berbagai jasa lainnya.

Digitalisasi sebagai Solusi

Program digitalisasi sebenarnya bukanlah hal baru di dunia pariwisata, Malaysia sudah lebih dahulu memanfaatkan teknologi informasinya dalam memperkenalkan wisatanya yang secara kualitas dan kuantitas tidak sebagus potensi wisata Indonesia. Penulis telah mengelilingi sebagian besar tujuan wisata utama di Malaysia, dan hampir semuanya ada di Indonesia, namun Indonesia masih kurang promosinya saja.

Singapura, yang mengandalkan program wisata belanja dan aktraksi tidak kalah kreatif, dengan websites www.visitsingapore.org dan www.yoursingapore.com, tourism board Singapura sangat jor-joran mempromosikan informasi paket wisata, tujuan wisata dengan berbagai kategori, hingga sampai tarif masuk dan jam pelayanannya. Informasi itu dilengkapi juga dengan peta lokasi dan berbagai transportrasi yang dapat digunakan untuk menuju kesana dan apa yang akan didapatkan oleh wisatawan saat mengunjungi tujuan tersebut. Berbagai informasi ini juga disajikan dalam bentuk Desktop, Mobile hingga Aplikasi dengan menggunakan internet. Sehingga belum datang ke Singapura pun, wisatawan sudah bisa membuat itenary dan budget untuk travelling.

Alhamdulillah Menteri Pariwisata Pak Arief Yahya sangat aware dengan Digitalisasi ini, dalam Rakornas Pariwisata ke-3 yang digelar di Econvention, Ecopark Ancol, Jakarta, 15-16 September 2016 dengan tema “Go Digital Be The Best” menegaskan; “Kita harus sadar, digital itu akan semakin akrab dengan kehidupan orang, dan ke depan akan semakin kuat. Maka kita tidak mungkin marketing tanpa menggunakan digital karena pemasaran digital itu lebih murah, mudah, dan world wide, siapa yang menguasai dunia digital dia yang akan memenangi peperangan,”

Penggunaan Digital tidak hanya menempatkan semua informasi pada satu websites terintegrasi, tapi juga memanfaatkan media sosial yang lebih cepat dalam penyebaran datanya. Beberapa kasus baik negatif maupun positif, sebuah informasi di media sosial lebih cepat menjadi viral ketimbang sumber resmi seperti official websites atau media berita online.

Aceh harus punya satu atau dua websites (bukan official websites Dinas Pariwisata) yang memuat semua informasi tentang wisata dan penunjangnya seperti informasi lengkap tujuan wisata (baik berupa data normatif, naratif dan pemetaan) yang dibagi dalam berbagai kategori semisal; Wisata Religi, Budaya, Alam, Refeksi Tsunami, Kuliner dan lainnya. Penting juga menyajikan daftar lengkap akomodasi  seluruh kabupaten kota di Aceh lengkap dengan rate, lokasi dan dapat direservasi online baik dengan menggunakan aplikasi lokal maupun aplikasi terkenal semacam Agoda, Trivago dan lainnya, tidak hanya menyuguhkan alamat dan nomor telepon.

Informasi tentang event pun tidak kalah penting, karena biasanya pada saat event lah wisatawan punya tujuan utama berkunjung ke suatu daerah. Informasi event ini harus sudah dipublikasi jauh hari, sehingga traveller dapat merancang perjalanan dari sejak awal, bila tidak, yang datang pada event tersebut tidak lebih dari penduduk lokal yang mencari hiburan atau pedagang asongan yang ingin meraup rejeki.

Selain pada tahap promosi, Digitalisasi Pariwisata dapat dilakukan dengan membuat proses administrasi pariwisata mejadi lebih mudah, misalnya proses reservasi tiket pesawat, hotel dan jasa transportrasi lokal serta pembelian tiket masuk dan berbagai administasi lainnya. Setelah itu, yang tidak boleh dilupakan adalah review atau feedback dari wisatawan yang dapat diisi melalui online maupun manual tentang apa yang dirasakannya setelah melakukan wisata di Aceh. Feedback ini sangat penting sebagai bahan promosi mouth to mouth antar para traveller. Karena biasanya penilaian antar wisatawan lebih dipercaya ketimbang informasi resmi dari promosi pariwisata. Dan semua review itu dipublikasi di websites resmi, sehingga siapapun bisa melihatnya.

Dengan diraihnya Penghargaan WHTA 2016 adalah sebuah kebanggan bagi Aceh ditengah perasaan duka yang sangat mendalam karena Gempa di Pidie Jaya, namun belajar dari tragedi Gempa dan Tsunami tahun 2004, mudah-mudahan kita dapat bangkit untuk menjalani hidup lebih kreatif dan positif untuk bisa memajukan Aceh, salah satunya pada bidang Pariwisata.

Karena Pariwisata adalah lahan dan potensi bisnis yang menjanjikan dan tidak akan pernah habis seperti Sumber Daya Alam. Pariwisata akan terus ada dan berhubungan dengan hajat hidup banyak orang dan usaha kecil sehingga dengan bagusnya pomosi pariwisata serta meningkatnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke Aceh akan meningkatkan pula pendapatan daerah Aceh serta makin majunya ekonomi masyarakat terutama pada bidang jasa.

Penggunaan Teknologi Digital bukanlah sebuah ide yang mahal dan susah untuk diimplementasikan, karena banyak sekali potensi teknologi informasi di Aceh yang dapat dimanfaatkan. 2 hal yang paling penting dalam proses Digitalisasi Pariwisata adalah Konsisten dan Konten. Konsisten dalam melakukan promosi dan melengkapi konten-konten yang telah disebutkan diatas.

Mudah-mudahan tahun 2017 dapat menjadi tahun kegemilangan wisata Aceh dengan dimenangkannya penghargaan WHTA 2016 dan Aceh dapat menjadi salahsatu tujuan wisata halal di dunia untuk selamanya.

 

* Penulis adalah TravelBlogger Aceh, Program Manager Komunitas IDEA dan kini bekerja sebagai Senior Engineer di Labtech International Ltd


0 Komentar
Tuliskan Komentar Anda
Inputan yang bertanda * harus diisi.